Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bahan Baku Melimpah, Ubah Akar Bambu Jadi Karya Seni

Mardi Sampurno • Senin, 8 Agustus 2022 | 17:00 WIB
UNIK: Patung berbahan akar bambu hasil kreasi Totok Setyawan, perajin warga Desa Sanankerto, Kecamatan Turen.
UNIK: Patung berbahan akar bambu hasil kreasi Totok Setyawan, perajin warga Desa Sanankerto, Kecamatan Turen.
KABUPATEN – Dongkel atau akar bambu tetap menjadi pilihan menarik untuk berkreasi. Selain dikenal kuat dan punya tekstur unik, bahan bakunya juga melimpah dan banyak tersedia di Kabupaten Malang.

Suda banyak pengrajin yang berhasil menyulap akar bambu menjadi aneka produk jadi. Seperti yang  dilakoni Totok Setyawan Putranto, 34, warga Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Totok menyulap limbah bambu menjadi aneka karya seperti asbak, topeng, dan karya seni lainnya.

Sebelum berkarya dengan akar bambu, Totok-sapaan akrabnya- lebih dikenal sebagai seniman ukir kayu  jati dan lainnya. Totok mengawali ketertarikan di dunia seni ukir sejak 2010. Hal itu dilakukan secara otodidak. Baru di tahun 2014, saat wisata Boonpring mulai dikembangkan, ia beralih ke akar bambu. "Dulu saya pakai media kayu. Tapi karena di sini ikonnya bambu dan terkenal dengan Boonpring, saya mulai mengelola limbah bambu,” ujarnya.

Untuk membuat karya seni, ia memanfaatkan bahan baku akar bambu dari warga di kampung sekitarnya. Hal itu karena selama ini, akar-akar bambu tersebut banyak yang tidak diolah lagi. Totok berpikir, bagaimana akar tersebut memiliki nilai tambah jika dikreasikan menjadi sebuah karya. "Eman di sini banyak bambu kalau tidak kami kembangkan," terang dia.

Dalam pembuatan itu, tidak semua akar bambu bagus dijadikan karya seni. Ia harus memilih bambu mana yang cocok untuk  dijadikan karya seni. Menurutnya, akar bambu yang paling baik kualitasnya adalah bambu jenis ori, kemudian bambu petung dan bambu ampel. Namun, di desanya, kebanyakan memiliki bambu petung dan bambu jawa. "Bambu ori itu akarnya besar dan seratnya padat. Jadi gampang kita mau mengarahkan ke mana. Seperti wajah itu gampang," kata dia.

Hasil karyanya ia jual melalui media sosial dan pameran-pameran. Peminatnya cukup banyak, namun hanya kalangan tertentu seperti kolektor dan penikmat seni. Meski demikian, jangkauan peminatnya sangat luas, termasuk wisatawan mancanegara.

Menurutnya, hasik kreasinya tak berhenti hanya dibeli warga lokal namun juga buyer dari Swiss, Belgia, dan Maroko.  "Harga karya tergantung desain. Kalau asbak saya jual Rp 30 ribu. Untuk karya lainnya, harganya beragam. Untuk patung antara Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta," kata dia.

Sayangnya, selama pandemi ini, ia harus berhenti berkarya. Penjualannya tersendat karena pembeli sepi dan tidak ada ajang pameran yang diikuti. Perekonomian yang sulit juga membuat masyarakat berhenti mengeluarkan uang untuk membeli karya seni.

Saat pandemi sudah mereda seperti sekarang ini, ia sudah bersiap untuk berkarya lagi. (nif). Editor : Mardi Sampurno
#Dongkel #Karya Seni #Kabupaten Malang #kerajinan #Akar Bambu