Tak pernah terbayang di benak Mudrika Amaliyah bakal kehilangan putri sulung yang masih remaja. Apalagi, putrinya meninggal akibat kericuhan di akhir pertandingan sepak bola. Pengalaman manis bersama sang buah hati bernama Revanya Salwa Syahrani itu pun terus terbayang.
“Sebetulnya bukan tidak ikhlas. Tapi semakin ke sini bukannya lupa, malah ingat terus. Saya sampai bertanya kepada Allah SWT, bagaimana cara mengikhlaskan apa yang sudah digariskan?”
KALIMAT itu diucapkan Mudrika Amaliyah saat mulai menceritakan sosok Revanya Salwa Syahrani. Air mata tak lagi bisa dia tahan. Mbrebes mili saat mengingat putri sulungnya yang meninggal akibat tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 itu.
Terlebih, selama hidupnya Salwa selalu menunjukkan sikap sebagai anak yang penyayang. Dibesarkan oleh sang nenek lantaran ayah dan ibunya memutuskan untuk berpisah, Salwa selalu berusaha menjaga kehangatan. Rutin bersilaturahmi kepada kedua orang tuanya yang sudah tinggal di tempat berbeda.
Mudrika mengisahkan, dia dan mantan suaminya, Sukarji, berpisah saat Salwa masih kecil. Putrinya itu kemudian dirawat neneknya di kawasan Gunung Kawi sejak SD sampai kelas 3 SMP. Selepas lulus dari SMP Negeri 1 Wonosari, Salwa tinggal bersama ayah kandungnya. Dia melanjutkan sekolah di SMK Negeri 11 Kota Malang.
Meski tinggal bersama Sukarji, Salwa tetap rutin mengunjungi ibu dan adik bungsunya yang kini tinggal di Perum Karanglo Indah H-2, Kelurahan Balearjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. “Dia selalu ingin menjaga hati orang tuanya. Suka tiba-tiba datang, lalu menyapa atau mengajari adikadiknya di sini. Kebiasaan itu sulit kami lupakan,” ungkap Mudrika sambil terisak.
Ibu tiga anak itu melanjutkan, Salwa sebenarnya tidak terlalu suka menonton pertandingan sepak bola. Dia pergi ke Stadion Kanjuruhan hari itu karena ajakan sahabat semasa SMPnya yang bernama Diska.
Semula, Mudrika dan Sukarji tidak mengetahui kalau Salwa berangkat menyaksikan laga Arema FC kontra Persebaya. Kepada Mudrika, Salwa hanya pamit pulang ke Wagir karena pada hari Sabtu hendak bermain bersama teman-temannya. Sebaliknya, kepada Sukarji, Salwa dan Diska pamit untuk menginap di Perumahan Karanglo H2.
Mudrika baru mendapat kabar bahwa Salwa menonton pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan pada Minggu pagi, 2 Oktober 2022. Kabar itu disampaikan keluarganya yang tinggal di Gunung Kawi pada pukul 05.30. Sebuah kabar sedih, bahwa Salwa dirawat di RS Hasta Husada Kepanjen karena menjadi korban kericuhan.
“Yang pertama kali mendapat kabar itu sebenarnya ayah kandungnya. Dapat informasi dari tetua di kawasan Wagir yang didatangi pihak kepolisian,” papar Mudrika. Mendengar kabar itu, Mudrika bersama keluarga dari Perumahan Karanglo segera meluncur ke RS Hasta Husada. Langkahnya terhenti di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Dia melihat ada seorang gadis yang terbaring lemas. Wajahnya membengkak, denyut nadinya rendah, dan oksigen di paru-parunya berkurang. Dokter mengatakan bahwa gadis tersebut terindikasi keracunan gas air mata.
“Yang menarik perhatian kami saat itu adalah kutek berwarna hitam di kuku kaki gadis itu. Seingat kami, Salwa menggunakan kutek yang sama. Akhirnya kami lihat, tapi enggak tahu anak ini masih hidup atau sudah enggak ada,” ujar wanita berambut panjang itu.
Mudrika lantas meminta bantuan kenalannya yang seorang dokter agar gadis yang dikira putrinya itu segera mendapat penanganan. Obat pun ditebus agar secepatnya bisa diberikan kepada gadis itu.
“Waktu menebus obat, saya kembali ditelepon saudara di Wagir. Mereka tanya, gak pengen memandikan tah? Saya bingung. Kemudian saudara menjelaskan kalau Salwa sudah ditemukan di RS Wava Husada,” kenang Mudrikah yang sempat mengira anaknya ditemukan dalam kondisi hidup.
Kabar yang baru disampaikan itu membuat keluarga dari Karanglo bingung. Mereka segera meluncur ke rumah Sukarji di Dusun Jamuran Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Jaraknya sekitar setengah jam dari RS Hasta Husada
Sesampai di sana, Mudrika sudah ditunggu untuk memandikan jenazah putrinya. Salwa akhirnya dimakamkan di TPU Jalan Satria. Berdekatan dengan makam Diska yang juga menjadi korban. Dari catatan kematian, Salwa diperkirakan meninggal dunia pukul 23.50.
“Saya tidak banyak bertanya ke orang tua Diska. Tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka. Karena Diska itu anak mereka satu-satunya,” tutur Mudrika.
Sebelum Salwa meninggal, Mudrika melihat perubahan sikap pada putrinya itu. Misalnya pada hari Kamis, 29 September 2022, Salwa ikut membantu memandikan adiknya. Padahal sebelumnya belum pernah dilakukan gadis berkacamata itu. Kemudian, sandal dan baju-baju kotor yang biasa dibawa Salwa dari Wagir juga dicuci bersih. Tidak diletakkan di keranjang seperti biasanya.
Semasa hidup, keluarga mengenal Salwa sebagai sosok pendiam dan penyayang. Namun dara kelahiran 6 September 2004 itu aktif mengikuti kegiatan di SMKN 11 Kota Malang. Mulai dari polisi taruna hingga seni bela diri taekwondo. Di Perumahan Karanglo, Salwa juga kerap membimbing anak-anak kecil berlatih taekwondo. (*/fat)
Editor : Mardi Sampurno