Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Aminayu tentang Anaknya yang Jadi Korban di Kanjuruhan

Mardi Sampurno • Selasa, 18 Oktober 2022 | 22:35 WIB
MASIH DIRAWAT: Aminayu menemani Mohammad Afrizal saat dikunjungi Presiden Joko Widodo di RSSA pada 5 Oktober lalu. Hingga kemarin, Aminayu belum tahu kapan Afrizal boleh pulang. (BIRO PERS KEPRESIDENAN)
MASIH DIRAWAT: Aminayu menemani Mohammad Afrizal saat dikunjungi Presiden Joko Widodo di RSSA pada 5 Oktober lalu. Hingga kemarin, Aminayu belum tahu kapan Afrizal boleh pulang. (BIRO PERS KEPRESIDENAN)
SUDAH TIGA KALI OPERASI, BERHARAP SEGERA PULANG

Sebagai ibu, sulit bagi Aminayu untuk melarang putranya, Mohammad Afrizal, untuk menonton pertandingan Arema FC kontra Persebaya pada 1 Oktober lalu. Sebab sang anak adalah penggemar berat Arema FC. Aminayu terpaksa mengantar putra bungsunya itu pergi ke Stadion hingga akhirnya terpisah pada saat terjadi kericuhan.

KECINTAAN seseorang terhadap sepak bola memang tidak memandang usia. Mohammad Afrizal adalah salah satu buktinya. Meski baru berusia 10 tahun, bocah dengan panggilan akrab Rizal itu sudah beberapa kali menonton pertandingan klub sepak bola kesukaannya, Arema FC. Baik lewat layar kaca maupun langsung di stadion.

Menurut Aminayu, 1 Oktober lalu merupakan kali ke empat Rizal menonton secara langsung laga klub berjuluk Singo Edan di Stadion Kanjuruhan. Semula dia sempat melarang putranya itu untuk pergi menonton. Namun kuatnya keinginan Rizal untuk menyaksikan super-derby Jatim itu mampu meluluhkan hati Aminayu dan suaminya, Athoillah.

Bersama anak sulungnya, Alifia, Aminayu dan Athoillah mengantar Rizal pergi menonton. Namun yang masuk ke dalam stadion hanya Rizal didampingi Athoillah. “Saya dan Alifia menunggu di parkiran karena tidak terlalu suka menonton bola,” terang ibu dua anak itu saat ditemui di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) pada Senin lalu (17/10).

Saat pertandingan berakhir, Aminayu dan Alifia berharap Rizal segara keluar Stadion. Namun hingga lebih dari satu jam, Athoillah dan Rizal tak kunjung terlihat. Kekhawatiran pun muncul lantaran terdengar keributan dari dalam stadion. Sesaat kemudian banyak orang berlarian, bahkan ada yang tergeletak.

Aminayu sudah berupaya menghubungi sang suami melalui telepon dan pesan singkat. Namun Athoillah tak kunjung merespons. Baru beberapa saat kemudian Athoillah menjawab telepon dengan suara panik. Dia mengaku terluka akibat kericuhan dan terpisah dengan Rizal.

Kepada Aminayu, Athoillah mengabarkan sedang berada di pintu 8. Dia tidak bisa berjalan karena kakinya sangat sakit. Matanya juga sudah berwarna merah pekat dan ada luka di bagian perut. “Saya berusaha mencari Rizal ke rumah sakit yang dekat dengan stadion. Karena tidak juga ketemu, saya pulang dan kembali ke stadion pada Minggu pagi, sekitar pukul 04.30,” terang perempuan asal Desa Lumbangsari, Kecamatan Bululawang itu.

Saat tiba kembali di stadion, ada petugas yang mengarahkan Aminayu ke Rumah Sakit Ben Mari di Jalan Raya Kendalpayak. Ada juga yang menyarankan langsung ke RSSA. Aminayu sempat menelepon RS Ben Mari dan mendapat kabar bahwa Rizal tidak berada di sana. Dia langsung memutuskan untuk pergi ke IGD RSSA. Di tempat itulah Aminayu menemukan Rizal yang sedang menanti giliran rontgen.

“Waktu itu Rizal dalam kondisi sudah sadar. Mungkin karena terlalu sakit, akhirnya jadi lemas dan diberi obat penenang. Tapi begitu saya datang, dia membuka mata dan langsung mengenali,” ujarnya. Luka yang dialami Rizal juga cukup mengkhawatirkan. Paha kanannya memar sampai berwarna kehitaman. Kondisi itu mengharuskan kulit paha kanan Rizal diganti dengan kulit dari bagian tubuh lain. Namun prosesnya cukup lama karena harus menunggu sel-sel yang baru tumbuh.

Karena mengalami luka yang lebar, Rizal harus dipasang alat khusus untuk mengeringkan luka dan menumbuhkan jaringan sel kulit. Siswa kelas 5 SDN Senggrong 2 Bululawang itu harus menjalani perawatan di RSSA sampai sekarang.

“Meskipun sudah sadar, tapi namanya anak kecil kan ingin pulang karena bosan. Tapi bagaimana lagi? Kalau dibawa ke rumah takut infeksi,” imbuh Aminayu.

Rizal juga sempat menjalani pemeriksaan jantung dan diduga ada cairan di dalamnya. Kondisi itu sempat membuat rencana operasi dibatalkan. Namun setelah diperiksa lebih lanjut, kondisinya baik-baik saja. Minggu sore (1/10), tim dokter akhirnya melakukan operasi pada Rizal.

Operasi tidak hanya berlangsung sekali. Pada 10 Oktober lalu, Rizal menjalani operasi kedua, dilanjut dengan operasi ketiga pada 14 Oktober. Sekarang Aminayu sedang menunggu apakah Rizal akan menjalani operasi ke empat atau tidak. “Sedang menunggu keputusan apakah hanya dibersihkan atau ditambal. Sambil melihat kondisi lukanya,” kata Aminayu.

Setelah dirawat di Intensive Care Unit (ICU) selama 5 hari, kondisi Rizal perlahan membaik. Saat ini, Rizal dipindahkan ke ruang perawatan reguler dan sudah bisa berkomunikasi dengan lancar. Sementara itu, sang ayah juga menjalani pengobatan di klinik mata untuk mengobati matanya yang kemerahan. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno
#korban tragedi kanjuruhan #kunjungan presiden joko widodo #rssa malang