Pengabdian masyarakat ini dilakukan karena makanan ringan seperti krupuk harus terus dijaga supaya matang dengan sempurna. Baik suhu, lamanya proses hingga membalikkan kerupuk harus dilakukan secara benar. Apalagi produksi makanan ringan dalam jumlah banyak tentu membutuhkan banyak tenaga dalam proses penggorengannya.
"UD Krupuk Lobster yang berlokasi di Talok Turen merupakan salah satu sentra penghasil kerupuk rambak di Malang," ucap salah satu Ketua Tim Muhammad Alfian Mizar. Namun dalam prosesnya masih menggunakan cara yang manual. Untuk menyelesaikan masalah tersebut harus diimplementasikan dengan mesin penggoreng otomatis.
"Keunggulan mesin penggoreng ini adalah adanya penghematan tenaga karena mitra tidak perlu menggoreng manual dengan spatula," tambahnya. Selain itu kerupuk bisa matang secara lebih merata.
Pengabdian masyarakat ini diawali dengan perancangan mesin menggunakan Computer Aided Design (CAD) sesuai analisis kebutuhan, dilanjutkan dengan pembuatan komponen mesin penggorengan otomatis. Wajan penggorengan berkapasitas 10 kg sampai 15 kg sekali masak, didukung dengan motor listrik sebagai penggerak sebesar 1/4 HP atau sekitar 200 watt. Mesin penggorengan ini juga dilengkapi dengan sistem pemanas berbahan dasar LPG.
"Prinsip kerja mesin penggorengan ini dilakukan dengan memasukkan minyak, lalu menyalakan sistem pemanas," imbuhnya lagi. Setelah itu menyalakan saklar sistem penggerak, maka penggorengan kerupuk akan dibantu dengan mesin hingga matang sempurna.
"Kesimpulannya dengan adanya pengabdian masyarakat ini, telah terwujud satu unit mesin penggorengan otomatis berkapasitas 10 -15 kg," tegasnya. Lalu terjadi transfer teknologi dan pengetahuan, khususnya tentang pengoprasian dan pemeliharaan mesin otomatis. Serta meningkatkan produktifitas mitra UD Kerupuk Lobster Talok Turen hingga 30 persen. (fif) Editor : Indra Andi