Sayangnya, pembuat lilin mengeluhkan sepinya order. Bakir, salah seorang perajin lilin di Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji mengaku tak lagi memperbanyak stok. Dia hanya membatasi produksi dari pesanan yang datang saja. “Saya sudah tidak bisa memasarkan produk lagi. Saya buat sesuai permintaan pelanggan saja,” kata pria 77 tahun ini.
Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir permintaan pembuatan lilin memang menurun. Tak hanya karena ada pandemi Covid-19, penurunan produksi sudah berlangsung sejak beberapa tahun sebelumnya. ”Dulu, biasanya tiga bulan sebelum imlek pesanan sudah pada datang. Sekarang hanya pelanggan tetap saja yang pesan,” bebernya.
Bagi Bakir, usaha membuat lilin saat ini hanya sebatas hiburan semata. Per hari, dia hanya membuat 40 lusin lilin atau 480 lilin angka dan 40 lusin atau 480 lilin ukir. “Kalau dulu sampai ada yang pesan lilin ukuran besar,” kenangnya. Kini dirinya hanya dibantu empat orang pegawai. Padahal beberapa tahun sebelumnya, 20 orang yang bekerja untuk memenuhi pesanan pelanggan. “Untuk harga satu kardus berisi 12 lilin Rp. 35 ribu ada yang Rp 40 ribu untuk ukuran lilin agak besar,” tutup dia. (nif/nay) Editor : Mardi Sampurno