Warga tampak memadati jalan-jalan di desa tersebut sejak pukul 07.00. Penduduk pria mengenakan setelan baju hitam dilengkapi aksesori jarik di pinggang. Di kepala mereka terlilit ikat kepala khas Tengger. Sementara penduduk perempuan mengenakan kebaya dan bawahan berbahan batik.
Alunan musik gamelan mulai terdengar tepat pukul 11.00. Delapan orang tampak mengangkat tandu berisi makanan, kepala kerbau, serta daging matang yang terbungkus daun. Tandu itu diarak sejauh 700 meter dari rumah kepala desa menuju tepat upacara.
Butuh waktu sekitar 30 menit bagi rombongan arak-arakan untuk menuju lokasi upacara. Laju mereka sangat pelan lantaran membawa beban berat menyusuri jalanan menanjak. Begitu tiba di tempat upacara, tandu itu diletakkan di tempat yang sudah disediakan. ”Warga mohon tenang dulu, Setelah ini ritual akan dimulai. Saya doakan dulu biar berkah. Nanti setelah selesai doa baru boleh diambil,” ucap Tomo, pemimpin upacara.
Tomo sempat menghentikan pembacaan doa lantaran terjadi kegaduhan. Maklum, tempat upacara itu tidak begitu luas. Sementara warga dan pengunjung yang datang diperkirakan mencapai seribu orang.
Cukup lama Tomo membacakan dia. Hampir 30 menit. Begitu doa tersebut selesai, warga berdesak-desakan untuk berebut berkat. Isinya beragam. Seperti buah kelapa, daging kerbau yang sudah ditusuk, hingga jajanan seperti lemper. Semuanya dijadikan satu dan dibalut daun pisang.
Dalam sekejap, sajian yang semula tampak banyak langsung ludes. Hanya tersisa kepala, kaki, dan kulit kerbau. Rangkaian upacara itu berakhir pada pukul 13.15
Kepala Desa Ngadas Mujianto menjelaskan, upacara Unan-Unan digelar setiap lima tahun sekali di kawasan Tengger. Semua desa melaksanakannya, tapi harinya berbeda-beda.
”Nguno ulan lungguhaken tahun. Kalau bahasa Indonesianya itu penetapan bulan dan tahun,” ujar Mujianto menjelaskan maksud digelarnya upacara Unan-Unan. Upacara itu juga membawa harapan agar selama agar 5 tahun ke depan masyarakat Ngadas mendapatkan rezeki yang melimpah.
Terkait kerbau yang disembelih, Mujianto tidak menyebut persyaratan khusus. Hanya saja, kerbau tersebut harus berjenis kelamin jantan. ”Ya karena jantan itu memiliki simbol pemberani, bibit unggul, kuat, sehingga diharapkan warga sekitar mampu bertahan dalam faktor apa pun,” tandasnya. (mon/pri/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana