Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Hasil Panen Bunga Kol di Karangploso Malang Menyusut Akibat Kurang Ini

Ahmad Yani • Selasa, 22 Agustus 2023 | 18:00 WIB

 

BUTUH BANYAK AIR: Petani menyiram tanaman bunga kol di areal persawahan di Desa Bonowarih, Kecamatan Karangploso. (Indah Mei Yunita/Radar Malang)   
BUTUH BANYAK AIR: Petani menyiram tanaman bunga kol di areal persawahan di Desa Bonowarih, Kecamatan Karangploso. (Indah Mei Yunita/Radar Malang)  
 

KARANGPLOSO – Menanam bunga kol di musim kemarau tak hanya membutuhkan perhatian ekstra. Petani juga harus siap-siap dengan hasil panen yang lebih sedikit dibandingkan saat musim hujan. Seperti yang dirasakan petani  bunga kol di Desa Bonowarih, Kecamatan Karangploso.

 

"Hasil panen bunga kolnya menjadi tidak normal saat musim kemarau seperti sekarang ini, ukurannya cenderung lebih kecil dari biasanya," ujar salah seorang petani Khoirul Anwar. Menurutnya, kondisi tersebut sangat dipengaruhi minimnya pasokan air. Sehingga, berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanamannya.

 

Biasanya, ukuran normal per satu bunga kol bisa mencapai 1,5 kilogram. Sedangkan, ketika kekurangan air, ukuran bunga kol bisa menyusut setengahnya, yakni 0,5 kilogram.

 

Dengan kondisi seperti itu, Khoirul memprediksi hasil panennya juga menurun hampir 50 persen. "Kalau airnya bagus, panennya bisa 8 ton. Kalau kering seperti ini mungkin sekitar 4 ton," kata dia.

 

Keuntungannya pun diprediksi semakin menurun mengingat harga bunga kol di pasar yang sangat rendah. Yakni hanya Rp 2.000 per kilogram. Sehingga, hasil penjualan untuk panen tiga bulan ke depan hanya sekitar Rp 8 jutaan.

 

Sedangkan, dalam proses budidayanya memerlukan modal yang cukup besar. Seluruh tanaman di lahan dengan luas 5.000 meter persegi itu memerlukan pupuk hingga 1 kuintal. "Per 50 kilogram, pupuk itu seharga Rp 840 ribu," kata Khoirul. Sehingga, untuk satu kali pemupukan, memerlukan dana sekitar Rp 1,68 juta. Bunga kol perlu tiga kali pemupukan, jadi untuk pupuk memerlukan Rp 5,04 juta.

 

Kemudian, dia memberikan fungisida sebanyak 6 kilogram seharga Rp 135 ribu per kilogram. Sehingga, untuk pembasmian hama jamur memerlukan Rp 810 ribu. Jika ditotal, modal untuk budidaya sebanyak Rp 5,85 juta. Sedangkan, perolehan panennya hanya sekitar Rp 8 juta. "Namanya petani memang begitu. Besar atau kecilnya untung bergantung cuaca dan pasar. Masih ada untung saja sudah lumayan," pungkasnya. (yun/nay)

Editor : Ahmad Yani
#Pertanian #Kabupaten Malang