SINGOSARI - Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) Singosari Lkd baru saja meresmikan unit usaha baru. Yakni Griya Anggrek Singosari yang terletak di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari. Meski baru diresmikan, Griya Anggrek Singosari yang dikembangkan dalam green house itu telah beroperasi sejak Januari 2023. Dengan potensi yang dimiliki, hasil budi daya anggrek di green house tersebut ditargetkan bisa menembus pasar ekspor.
"Kami sudah didampingi dan dilatih PAI (Perhimpunan Anggrek Indonesia) untuk ekspor. Mereka juga sudah menyiapkan pasarnya," ujar Direktur BUMDesma Singosari Lkd Agus Sudrikamto, kemarin (8/10). Secara kualitas dan kuantitas produksi, pihaknya sudah siap untuk pemasaran luar negeri. "Di dalam green house itu sudah tersedia sekitar 125 ribu bunga anggrek yang siap dipasarkan," imbuhnya. Jenisnya pun ada dua, yakni anggrek dendrobium dan cattleya.
Saat ini, pemasaran masih terbatas di area Malang, Surabaya, Yogyakarta, dan Jawa Barat, baik online maupun offline. "Pembeli kami kebanyakan reseller, bukan perorangan," kata Agus. Pemasarannya pun cukup cepat. Sejak Maret-September, pihaknya sudah mengantongi omzet Rp 195 juta.
Sayangnya, BUMDesma Singosari Lkd masih belum bisa menembus pasar internasional. Sebab, belum ada perizinan dari pemerintah pusat untuk pelaksanaan ekspor anggrek. Wakil Bupati (Wabup) Malang Didik Gatot Subroto mengatakan, perizinan masih macet di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
"Kemungkinan, KLHK khawatir jika produk anggrek ini diekspor, akan dilakukan penyilangan oleh pengekspor, dan produknya diakui oleh pihak luar," ujarnya saat mendampingi Menteri Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes-PDTT) Abdul Halim Iskandar di Griya Anggrek Singosari, kemarin (8/10). Untuk itu, pihaknya menyarankan agar produk anggrek tersebut dipatenkan terlebih dahulu. "Targetnya, tahun depan sudah terdapat izin ekspornya. Pemerintah pusat juga mendukung percepatan perizinannya," imbuhnya. (yun/nay)
Editor : Ahmad Yani