Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bendungan Lahor Sumberpucung Malang Mengering, Ikan-Ikan Kekurangan Oksigen

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Selasa, 17 Oktober 2023 | 18:00 WIB

 

Beberapa ikan tergeletak  di salah satu sisi bendungan yang sudah mengering. Kadar oksigen di dalam air bendungan juga berkurang akibat suhu yang meningkat.
Beberapa ikan tergeletak di salah satu sisi bendungan yang sudah mengering. Kadar oksigen di dalam air bendungan juga berkurang akibat suhu yang meningkat.

SUMBERPUCUNG - Kemarau panjang yang terjadi sejak April 2023 lalu mengakibatkan debit air di Bendungan Lahor, Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, menyusut.

Dari yang biasanya memiliki kedalaman sekitar 35 meter, saat ini menjadi sekitar 24 meter.

Ikan-ikan yang dibudidayakan di bendungan tersebut banyak yang mati akibat kekurangan oksigen.

Pantauan Jawa Pos Radar Malang kemarin (16/10), sejumlah ikan nila tampak mati di salah satu sisi bendungan yang sudah mengering.

Kemungkinan beberapa hari sebelumnya sisi bendungan itu masih terendam air.

Sebab, ikan-ikan tersebut belum membusuk seluruhnya.

Hanya bagian yang bersentuhan dengan tanah saja yang rusak. 

”Biasanya tinggi permukaan air bendungan hampir setara dengan lahan yang ditanam pohon jati itu,” ujar Hadi Prawoto, pemilik usaha pemancingan Bendungan Lahor, sambil menunjuk ke arah lahan yang banyak ditumbuhi pepohonan.

Kini, jarak antara permukaan air bendungan dengan lahan tersebut sudah mencapai sekitar 11 meter.

Menurut pria 51 tahun itu, air di bendungan mulai surut sejak Agustus lalu.

Karena terjadi penurunan kedalaman, suhu di dalam air semakin meningkat, diikuti dengan peningkatan kadar asam.

Kandungan oksigen di dalam air pun berkurang.

”Makanya ikan banyak yang mati. Misalnya, dari penyebaran seribu bibit 1.000 ikan nila, hanya sekitar 25 persen yang bertahan hidup sampai dewasa,” kata pria yang akrab dengan sapaan Otto tersebut.

Sedangkan 75 persen sisanya sudah mati dalam masa pertumbuhan.

Sayangnya, faktor alam semacam itu belum bisa teratasi.

Otto murni bergantung kepada cuaca untuk menjalankan usaha pemancingan.

Saat cuaca baik, tempat yang dia sediakan bisa dikunjungi 200 orang per hari.

”Itu yang paling banyak. Kalau rata-rata 50 orang per hari,” ucap pria  yang sudah membuka usaha pemancingan sejak 2004 itu.

Kedalaman air di Bendungan Lahor, Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, berkurang dari 35 meter, menjadi sekitar 24 meter.
Kedalaman air di Bendungan Lahor, Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, berkurang dari 35 meter, menjadi sekitar 24 meter.

Beda dengan ketika cuaca sedang panas dan air di bendungan surut seperti saat ini.

Menurut Otto, dalam sepekan kadang tidak ada pemancing sama sekali.

Padahal sebelumnya banyak pemancing yang datang dari luar kota.

Seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.

Dalam kondisi seperti saat ini, Otto mengaku tidak mengubah harga jual ikan dari pemancingan.

Misalnya untuk ikan nila.

Per kilogram hanya dipatok Rp 25 ribu.

Toha, 34, salah seorang  pemancing di bendungan itu mengaku akhir-akhir ini kesulitan memperoleh ikan.

”Kalau lagi surut memang susah mendapat ikan. Hari ini juga tidak dapat,” ujar laki-laki asal Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen itu.

Padahal, memancing bukan hal sulit baginya.

Saat cuaca sedang bagus, dia bisa mendapatkan sekitar dua kilogram. (yun/fat)

 

 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bendungan lahor #sumberpucung malang