MALANG RAYA – Ancaman tanah longsor masih membayangi akses utama wilayah Kabupaten Malang bagian barat (Pujon, Ngantang, dan Kasembon). Pohon-pohon penyangga tebing di atas jalan yang menghubungkan tiga wilayah itu, khususnya di Pujon, banyak yang hilang. Sementara reboisasi atau penanaman kembali oleh Perhutani baru dilaksanakan bulan depan.
Jawa Pos Radar Malang sempat mengambil foto udara perbukitan dan tebing di Desa Sukomulyo pada 7 November lalu. Hutan di atas bukit sudah berubah fungsi menjadi lahan pertanian dengan komoditas tanaman sayuran. Sementara pepohonan di tebing yang tepat berada di atas Jalan Brigjen Abdul Manan Wijaya sudah banyak yang hilang.
Longsor pernah terjadi di kawasan tersebut pada Februari 2023 dan menutup seluruh akses jalan. Sekretaris Perum Perhutani Divisi Regional (Divre) Jawa Timur (Jatim) Akhmad Faizal mengatakan, pihaknya terus berusaha menangani masalah semacam itu. Salah satunya dengan rencana penanaman kembali lahan hutan yang terbuka.
”Kami juga sudah tergabung dalam Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA). Tim itu rutin melakukan pertemuan untuk membahas lokasi rawan banjir dan membuat rekomendasi,” ujarnya kemarin (8/11).
Dia menjelaskan, rekomendasi juga bisa berupa reklamasi atau penanaman dan gully plug. Yakni bangunan konservasi berupa susunan batu dalam kawat bronjong yang melintang alur anak sungai maupun parit. Bangunan tersebut berfungsi menahan endapan lumpur, sehingga tebing parit akan lebih rendah atau tidak terlalu dalam.
Hal tersebut dapat mengurangi atau bahkan menghindari ancaman tanah longsor. Rencana lebih rinci diungkapkan Wakil Administratur Perum Perhutani KPH Malang Timur Andry Wahyu Tri Purnawan. Berkaca dari kejadian pada tahun-tahun sebelumnya, dia mencatat ancaman longsor terjadi di lima kecamatan.
Yakni di Kecamatan Pujon, Ngantang, dan Kasembon (Malang barat), Kecamatan Sumbermanjing Wetan atau Sumawe (Malang Selatan), dan Kecamatan Bumiaji (Kota Batu). ”Untuk daerah Malang selatan, yang paling sering terendam banjir itu Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumawe. Kalau kejadian dua tahun lalu di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, itu banjir bandang,” kata dia.
Salah satu penyebab banjir di Kabupaten Malang adalah kondisi hutan yang jumlah pohonnya terus berkurang. Karena itu, program reboisasi diprioritaskan di daerah-daerah yang rawan banjir dan tanah longsor. Di luar daerah prioritas juga dilakukan program yang sama, menyebar mulai wilayah Malang bagian barat hingga selatan.
Perhutani juga berencana melakukan reboisasi pada hutan-hutan bekas tebangan. Sehingga jika ditotal ada sekitar 85 hektare hutan yang akan ditanam kembali pada tahun ini. Jenis tanamannya bermacam-macam, tapi semuanya berupa pohon yang memiliki akar kuat. Misalnya pohon pinus, jati, dan pohon berbuah seperti durian dan alpukat. “Insyaallah kami mulai reboisasi pada awal Desember tahun ini. Sekaligus dalam rangka memperingati HMPI (Hari Menanam Pohon Indonesia),” lanjut Andry.
Untuk pelaksanaan kegiatan tersebut, pihaknya juga berkolaborasi dengan beberapa instansi lain. Di antaranya Kantor Cabang Dinas Kehutanan Malang, pemerintah kabupaten/kota, musyawarah pimpinan kecamatan (muspika), dan pemerintah pemerintah desa setempat Salah satu hutan yang akan dilakukan penanaman kembali berada di Desa Sukomulyo, Kecamatan Pujon.
Andry mengakui bahwa sebagian luasan hutan di desa tersebut sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian. Di bagian tebing dekat jalan raya pun sudah tidak ada pohon besar yang mampu menahan tanah. ”Kami menyebutnya kawasan open plek (daerah terbuka). Itu juga menjadi prioritas kami dalam penanaman kembali,” terang dia.
Selama ini Perhutani memang bermitra dengan masyarakat terkait pemanfaatan lahan untuk tanaman tumpang sari. Pihak perhutani juga menerapkan batasan-batasan dalam pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian.
Misalnya, dilarang merusak tanaman pokok dan dilarang menanam sayur. Faktanya, batasan-batasan semacam itu banyak dilanggar dan dalam jangka panjang. Warga memilih menanam sayur dan menghilangkan pepohonan yang memiliki akar kuat. ”Ini secara bertahap mulai kami tertibkan,” terangnya.
Ke depan, masyarakat yang menjadi mitra Perhutani diarahkan untuk alih komoditas. Tidak boleh lagi ada yang menanam sayuran yang sudah pas ti bisa merusak hutan. ”Misalnya diganti dengan kopi atau buah-buahan. Kami berkolaborasi dengan muspika dan mulai melakukan sosialisasi mendorong alih komoditas semacam itu,” imbuhnya.
Terpisah, Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya Prof Adi Susilo MSi PhD menilai upaya pencegahan bencana dari sumber daya manusia mau pun fasilitas samasama penting. Apalagi, 80 persen penyebab bencana berasal dari bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor yang memiliki kaitan erat.
Adi melanjutkan, bencana hidrometeorologi terjadi karena pada saat kemarau tanah renggang. Lalu, memasuki musim hujan, tanah yang panas terisi air. Hal itu berpotensi menyebabkan tanah longsor, utamanya di lahan yang miring dan salah peruntukan. Apalagi saat ini hutan-hutan di Malang banyak yang gundul. Contohnya di Desa Sitiarjo yang sebelumnya sangat rimbun.
Sejak tahun 1998-an, hutan di sana ditebangi secara masif, sehingga tidak bisa menyerap air lagi. ”Kemudian, di Tirtoyudo yang sungainya penuh sedimen. Hujan sedikit saja airnya bisa meluap,” tandasnya. (yun/mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana