Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Badjoeri Jadi Ikon Pakisaji Malang

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 10 November 2023 | 23:00 WIB

 

Badjoeri diabadikan sebagai nama jalan di Pakisaji Malang
Badjoeri diabadikan sebagai nama jalan di Pakisaji Malang

BADJOERI dan Usman Jannatin masuk dalam daftar pahlawan yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di Bumi Arema. Perjuangan Badjoeri dalam mempertahankan kemerdekaan dikenang oleh warga Pakisaji, Kabupaten Malang hingga kini.

Itu terlihat dari keberadaan Tugu Badjoeri di Jalan Raya Pakisaji. Selain tugu, juga menjadi nama salah satu gang di Desa Pakisaji, yakni Gang Pahlawan Badjoeri. ”Saya salah satu saksi yang mengetahui meninggalnya Badjoeri saat itu,” kata Karmuji Wicaksono, Kepala Desa (Kades) Pakisaji 1990-1999.

Perjuangan Badjoeri berlangsung sepanjang agresi militer Belanda I dan II, sekitar tahun1947-1948. Kala itu Karmuji masih berusia 7 tahun. Saat hendak potong rambut bersama ayahnya di pasar Pakisaji, dia melihat Badjoeri berbincang-bincang di sekitar sawah dan Pasar Pakisaji. 

Selang beberapa saat, suara tembakan terdengar mengarah ke Badjoeri. Ayah Karmudji memberi tahu warga untuk bersembunyi. Akhirnya Badjoeri berhadapan dengan tentara Belanda yang melakukan operasi militer. ”Dia tertembak oleh empat prajurit Belanda. Tidak sempat memberikan perlawanan setelah 13 timah panas bersarang di tubuhnya dan dinyatakan meninggal,” katanya.

Menurut Karmuji, Badjoeri tidak bisa menghindar karena dia sudah diincar oleh Belanda. Setelah terkapar, jenazah Badjoeri ditinggal begitu saja oleh Belanda. Sang patriot itu tumbang di lokasi yang kini menjadi Masjid Besar Al Ikhsan. 

Saat itu, usia Badjoeri diperkirakan 30-35 tahun. Dia dimakamkan TPU Desa Pakisaji. Tapi sebelum dimakamkan, keluarganya sempat ditawari agar Badjoeri dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kepanjen, tapi keluarganya menolak. Pada 1955 dibangun tugu Badjoeri.

Badjoeri memang salah satu pahlawan yang getol melawan Belanda. Dia terus memobilisasi masyarakat dari satu tempat ke tempat lain. Seperti membawa warga yang menjadi target operasi ke dalam hutan. ”Badjoeri adalah orang yang selalu memberi tahu warga jika operasi militer datang,” bebernya. 

Dia mengatakan, Badjoeri kerap menyaru sebagai masyarakat. Dia berperawakan tinggi besar dan berbulu dada. ”Badjoeri tidak pakai senapan seperti di patung. Dulu ia hanya dengan bamboo runcing,” ucapnya. 

Pahlawan lokal lain adalah Usman. Namanya dijadikan sebagai nama salah satu gang di Desa Pakisaji. Karmuji mengatakan, penamaan jalan tersebut karena Usman meninggal di sana. ”Pahlawan Usman itu aslinya dari Bandulan, Kota Malang, tapi dia dieksekusi di jalan tersebut,” kenangnya. 

Sama dengan Badjoeri, Usman juga salah satu yang menentang keras Belanda. Dia kerap memata-matai Belanda. Sudah beberapa kali menjadi incaran Belanda namun lolos. 

Hingga akhirnya pada suatu siang sekitar lima orang menggelar rapat termasuk Usman, Belanda patroli dan menyerbu ruang rapat tersebut.

”Pada periode 1953-1955 digerebek Belanda. Yang lain kabur tapi yang namanya Pahlawan Usman tertangkap. Ia akhirnya dieksekusi di bawah pohon di jalan itu. Makanya dulu kakek kami menjadikannya nama jalan,” jelasnya.

Saiful Efendi, salah satu tokoh masyarakat Desa Wonomulyo, Kecamatan Sumberpucung membeberkan beberapa pahlawan lokal di desanya yang dijadikan nama Jalan. Antara lain, Kusnan Marzuki, Sutomo dan Subandi. "Subandi merupakan pahlawan kemerdekaan yang tewas di jembatan dekat pasar, karena mempertahankan wilayah ini," katanya. (pri/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#pakisaji #badjoeri #malang