KABUPATEN MALANG - Keberagaman antaraumat beragama di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, ini patut jadi teladan.
Umat Kristiani yang menjadi mayoritas begitu menghormati umat Islam.
Dua tempat ibadah kedua agama juga berdekatan.
Berikut laporan Hanifuddin Musa dan Suharto.
Tembok Masjid Mujahidin tampak usang.
Terlihat jika bertahun-tahun tidak ada pengecatan di masjid berukuran 14x18 meter itu.
Kondisi itu sama seperti saat Jawa Pos Radar Malang mengunjungi masjid itu 8 tahun yang lalu.
Semuanya terlihat sederhana.
Tidak ada perubahan sama sekali.
Yang menarik, masjid satu-satunya di desa tersebut seperti dihimpit dua gereja.
Yakni Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Peniwen dan GKJW Ringin Pitu.
Jarak antar masjid dengan GKJW hanya sekitar 800 meter.
Wajar jika ada dua gereja lumayan besar di sana.
Sebab umat Kristen ada 1.235 kepala keluarga.
Sementara, umat Islam hanya 15 kepala keluarga.
Kendati demikian, kerukunan, persatuan dan persaudaraan di sana nampak erat.
Toleransi beragama di desa itu sudah terjaga puluhan tahun lamanya.
Ustadz M. Kholiq, Pengasuh Panti Asuhan Ar-Rahman sekaligus takmir Masjid Mujahidin menuturkan, sejak masjid itu berdiri, tak terlihat sedikit pun gejolak tentang perbedaan spiritual.
“Umat Islam mendapat perlakuan yang baik.
Saat menjalani ibadah seperti puasa ini, tidak ada umat Kristiani yang minum atau makan di depan mereka” katanya.
Memang, di Desa Peniwen pemandangannya terlihat berbeda dari desa-desa yang lain.
Setiap rumah terdapat puluhan anjing.
Walaupun terdapat puluhan anjing, selama ini umat Islam tidak merasa terganggu.
Bahkan ada juga orang muslim yang memelihara anjing.
Pernah suatu ketika, anjing itu berada di depan masjid.
Ternyata dia menunggu majikannya yang sedang shalat.
“Kami sedikit demi sedikit memberikan pemahaman bahwa anjing itu najis.
Masyarakat serta santri yang ada di Panti Asuhan tersebut diberikan pemahaman mengenai tata cara menyucikannya,” kata dia.
Masjid Mujahidin sendiri dibangun pada 21 Juni 1997 atau 15 Shafar 1413 H.
Tujuan dibangun masjid, untuk mewadahi umat muslim yang ada di Desa Peniwen.
Hingga sekarang, masjid itu masih menjadi satu-satunya masjid yang ada di desa tersebut.
Walaupun dihimpit oleh dua gereja, aktivitas selama bulan suci Ramadan di masjid tersebut tidak berkurang sedikit pun.
Sebut saja tadarus Al-Qur’an.
“Kita rukun-rukun saja selama ini, ” ucapnya.
Ceritanya, selama bulan suci ini, para santri saat tadarus dilarang menggunakan speaker.
Kenapa? menurutnya, umat Islam harus menjunjung tinggi arti toleransi.
“Kami tadarus sampai jam 21.00. Lewat dari itu tidak boleh. Kita harus mengerti, takut mengganggu warga sekitar,” ucapnya.
Yohanes Kriswandito, Kasi Kesra Desa Peniwen merasa salut terhadap para santri.
Sebab, selama ini mereka sangat rukun dan damai dengan warga umat Kristiani.
Para warga muslim pun toleransinya cukup tinggi.
Terbukti saat bulan suci Ramadan, umat Kristiani terkadang sering diundang berbuka puasa bersama.
Dia mengatakan, rencana akan ada buka puasa bersama di Masjid Mujahidin.
“Salut saya sama Panti Ar-Rahman, walaupun dibolehkan menggunakan pengeras suara, tapi dia tetap tidak menggunakan.
Intinya selama ini kami dengan para warga tidak ada masalah sedikit pun.
Kami merasa senang dan bangga hidup berdampingan walaupun lebih mendominasi kami di Desa Panewen ini,” ucap dia saat ditemui di Kantor Kepala Desa Panewen.
Bahkan, terkadang, umat Kristiani juga ikut membawa puluhan kotak nasi ke masjid tersebut.
Tujuan dari itu semua adalah, umat Islam dan Kristen di desa tersebut tidak ada gejolak walaupun mereka memiliki perbedaan keyakinan.
“Kita hidup damai, tentram, dan saling membantu satu sama lain,” tutup dia. (abm)
Tulisan telah terbit di Radar Malang pada edisi Ramadan 2022 lalu.
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana