TUMPANG – Kesadaran masyarakat untuk meminimalkan sampah harus ditanamkan sejak dari hulu, yakni rumah tangga.
Salah satunya dengan kelembagaan bank sampah.
Meskipun skala pelayanan kecil, tetapi bank sampah mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Baca Juga: Armada Angkut Rusak, Sampah di Jalan Muharto Kota Malang Menggunung
Seperti Bank Sampah Insan Ceria Mandiri di Dusun Wiroto, Desa Slamet.
Pengurus Bank Sampah Insan Ceria Mandiri Ning Sulastri menyebutkan, masyarakat biasanya datang secara mandiri ke bank sampah unit yang terletak di tiga RW.
Kemudian setiap Sabtu pagi, petugas mengumpulkan sampah dari tiga RW tersebut.
“Jika ditotal, ada sekitar 1,5 ton sampah yang terkumpul,” ucap Sulastri.
Sampah-sampah tersebut mayoritas berupa kardus dan botol air mineral.
Terkadang, dia melanjutkan, setiap orang bisa mengumpulkan satu karung botol.
Jika ditimbang berkisar 200-300 gram, tergantung merek botol air mineral yang dikumpulkan.
Dengan begitu, Sulastri berharap warga Desa Slamet terbiasa memilah sampah dari sumbernya.
“Keberadaan bank sampah efektif untuk mengurangi sampah plastik. Namun, mengubah kebiasaan warga ini cukup sulit,” kata perempuan yang juga menjabat sebagai Kaur Pemerintahan Pemerintah Desa (Pemdes) Slamet itu.
Sebab, mayoritas warga memang masih malas memilah sampah dari rumah.
Hal itu ditunjukkan dengan keaktifan nasabah bank sampah.
Dari sekitar 260 nasabah, hanya 120-an nasabah yang aktif mengumpulkan sampah.
Itu pun tidak rutin seminggu sekali.
Padahal keuntungan aktif mengumpulkan sampah pun lumayan.
Dalam satu tahun bisa menghasilkan Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu untuk satu nasabah.
Namun tetap tergantung sampah yang disetorkan.
“Biasanya uang tersebut dibagikan setiap Ramadan, dalam bentuk sembako. Itu sesuai permintaan masyarakat. Soalnya, kalau dalam bentuk uang lebih cepat habis,” pungkasnya. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana