KEPANJEN - Produksi kopi di Kabupaten Malang merosot dalam dua tahun terakhir.
Pada 2022 dan 2023, stagnan di angka 14 ribu ton.
Rinciannya, kopi robusta berkisar 13,4 ribu ton.
Sedangkan produksi kopi arabika hanya 854 ton.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Kholida Masruroh mengatakan, hasil panen kopi pada 2024 diprediksi menurun lagi.
Itu karena kondisi iklim yang tidak mendukung pertanian kopi.
”Meski ada juga beberapa daerah yang produksinya naik, tapi secara umum menurun,” kata dia.
Menurut dia, naik turunnya produksi kopi di suatu daerah tergantung curah hujan.
Jika curah hujannya tinggi, tanaman kopi banyak yang rontok, sehingga hasil panen tidak bagus.
Tapi terlalu lama musim kemarau juga tidak bagus.
Saat ini, dia mengatakan, beberapa wilayah di Kabupaten Malang sudah mulai ada yang panen.
”Agustus baru panen raya,” katanya.
Dia berharap, tahun depan mulai ada peningkatan produksi kopi di Kabupaten Malang.
Dia optimistis bakal ada kenaikan karena sudah terbentuk cabang-cabang B0, B1 dan B2 yang banyak.
Sebagai informasi, cabang B0 ialah calon buah produksi.
Sedangkan cabang B1 sudah berbunga satu kali.
Lalu B2 sudah berbunga dua kali.
Dia berharap petani kopi juga bisa merawat pertaniannya.
“Tinggal bagaimana perlakuannya yang perlu ditingkatkan oleh para petani,” tuturnya.
Guna memaksimalkan produksi kopi pada tahun depan, dia mengatakan, perlu pemangkasan tepat waktu setelah musim panen.
Lalu pemupukan yang berimbang.
Tujuannya agar unsur haranya terpenuhi.
”Kemudian yang ketiga, pemberian pupuk organik yang cukup, sehingga bisa memperbaiki tanaman,” katanya. (iza/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana