
APA jadinya jika truk pengangkut sampah berhenti beroperasi beberapa hari? Bumi Arema, terutama Kota Malang, seketika bakal berubah menjadi lautan sampah. Bau tak sedap merebak di mana-mana.
Maklum, ada sekitar 720 ton sampah setiap hari. Jika tujuh hari saja tak diangkut, lebih dari 5.000 ton sampah akan menumpuk. Mengotori jalanan dan memenuhi gang-gang permukiman. Itu baru di Kota Malang. Belum termasuk volume sampah warga Kabupaten Malang dan Kota Batu.
Problem sampah menjadi ancaman bagi ekologi. Kesehatan. Hingga sosial dan ekonomi. Ketika Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kian sesak namun produksi sampah terus melonjak, krisis ekologi berada di depan mata.
Di tengah ancaman kritis ini, proyek Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) bisa menjadi solusi. Tapi harapan itu tersandera persoalan klasik. Yakni alotnya pengadaan lahan. Sebenarnya sudah ada tiga alternatif lokasi.
Rencana awal di Pakis tapi batal karena masuk Zona Keselamatan Udara Lanud Abdul Rachman Saleh. Kemudian bergeser ke Bululawang namun diprotes warga karena lokasi berstatus Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Sementara opsi di Supit Urang, Kota Malang juga tidak memungkinkan.
Kendala ini harus segera dituntaskan. Apa pun caranya, harus segera ditempuh meskipun jika nanti harus melewati banyak birokrasi. Pemerintah harus berani. Sebab, bom waktu ledakan TPA tidak pernah menunggu kesiapan birokrasi.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati pada Jumat lalu (5/6) seharusnya menjadi alarm keras. Malang Raya butuh terobosan. Pemerintah tak bisa lagi memakai cara lama. Sekadar mengangkut sampah dari permukiman ke TPA. Pola "angkut-buang-timbun" terbukti gagal. Cara ini hanya memindahkan masalah. Bukan menuntaskannya.



