DAU - Proyek perbaikan Jembatan Tirtotaruno di Dusun Klandungan, Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang sudah rampung.
Akses jembatan penghubung dua dusun yang ditutup sejak sembilan bulan lalu, kemarin (29/7) mulai dibuka lagi.
Sebelumnya, area jembatan tersebut ambrol diterjang longsor beberapa bulan lalu.
Baca Juga: Akses Jembatan Tirtotaruno Malang Mulai Dibuka Senin Depan
Ruas jalan tergerus, sehingga hanya sisa separo. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mengkhawatirkan terjadi korban jiwa jika ada pengendara yang melintas.
Karena itu, akses yang menghubungkan dua dusun di Desa Landungsari itu ditutup.
Kemudian infrastruktur jembatannya diperbaiki. Selama perbaikan berlangsung, jembatan tersebut ditutup.
Akibatnya, warga sekitar yang biasanya melintasi jembatan tersebut harus berputar lebih jauh dengan waktu tempuh lebih lama.
Perbaikan jembatan menghabiskan Rp 514,5 juta.
Biaya pembangunannya diambilkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2024.
Kepala Desa (Kades) Landungsari Asyarul Khakim mengatakan, kini jembatan tersebut tidak tak hanya bisa diakses kendaraan roda dua.
Tetapi juga kendaraan roda empat.
“Alhamdulillah sudah selesai dan masyarakat sangat menyambut baik proyek perbaikan jembatan tersebut,” ujar Asyarul kemarin.
Setelah jembatan selesai dan bisa dilalui kendaraan, dia berharap bisa memulihkan perekonomian warga sekitar.
“Juga diharapkan bisa mengurai kemacetan arus lalu lintas,” katanya.
Pihaknya menyampaikan berterima kasih kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang.
Dia mengatakan, jembatan tersebut merupakan jalur alternatif dari arah Merjosari (Kota Malang) menuju Kota Batu.
Baca Juga: Jembatan Tirtotaruno di Dau Malang Ditarget Tuntas Bulan Depan
Sehingga dengan terputusnya akses tersebut, dia melanjutkan, dampaknya tidak hanya dirasakan warga sekitar.
Salah seorang warga, Irwan Himawan, 32, mengaku bersyukur atas rampungnya perbaikan jembatan Tirtotaruno.
Selama beberapa bulan akses jembatan ditutup, usahanya sepi.
”Akibatnya ya bengkel saya tidak dilalui kendaraan. Biasanya saya mendapat 10 motor per harinya, selama tutup ya hanya separonya saja,” terang Irwan yang kesehariannya buka bengkel sepeda motor tersebut. (iza/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana