Spot paralayang di Pantai Modangan punya sejumlah keistimewaan.
Salah satunya yakni tempat tersebut bisa digunakan untuk terbang pada malam hari (full moon).
Uji coba pertamanya dilakukan pada 2023
BUDI Utomo, Kepala Desa (Kades) Sumberoto, Kecamatan Donomulyo punya andil besar di balik berkembangnya spot paralayang di Pantai Modangan.
Semua bermula pada 2017 lalu.
Seperti desa-desa lainnya, dia ingin wilayahnya punya spot wisata andalan.
Pantai Modangan dengan hamparan pasir yang cukup luas langsung diliriknya.
Namun di awal-awal dia bingung cara memanfaatkannya.
Budi hanya ingin pantai itu memiliki ciri khas yang berbeda.
Baca Juga: Uniknya RW 3 Kelurahan Songgokerto Kota Batu, Mayoritas Warganya Jagoan Paralayang
Dia kemudian mengalihkan fokus ke bukit di sebelah timur pantai tersebut.
Seketika tebersit ide untuk menjadikan bukit itu sebagai lokasi paralayang.
Lagi-lagi dia bingung cara merealisasikannya.
Hingga suatu ketika pada 2017 lalu dia bertemu Khoirul Ansori, tetangga desanya.
Saat itu Khoirul datang ke Desa Sumberoto untuk menawari bisnis pembayaran token ke karang taruna di sana.
Khoirul tidak sendirian.
Dia datang bersama rekannya yang biasa menjadi juri paralayang.
Pertemuan itu dimanfaatkan Budi untuk berdiskusi.
Dia ingin idenya terealisasi.
Singkat cerita, mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan percobaan penerbangan.
Bukit yang kini bernama Bukit Waung itu berada di ketinggian 200 meter di atas permukaan laut.
Saat itu, lokasinya masih dimanfaatkan untuk lahan pertanian.
Sekitar bulan Maret 2017, pengujian paralayang dilakukan untuk pertama kalinya.
Hasilnya sesuai harapan.
Baca Juga: Tarifnya Tandem Paralayang di Batu Diklaim Paling Murah
Pilot paralayang berhasil terbang mulus pada percobaan pertama.
Dan, mendarat dengan aman di Pantai Modangan. Sejak saat itu, pihak desa serius menggarap spot paralayang di sana.
Warga turut diberi tahu bahwa itu akan berdampak luas.
Mereka pun setuju dengan ide dari Budi.
Saat itu, lahan di sana masih dikelola Perhutani.
Untuk bisa merealisasikan ide menghadirkan spot paralayang, mereka mengajukan izin agar tempat tersebut bisa dikelola kelompok tani hutan (KTH).
Prosesnya memerlukan waktu yang panjang.
”Saya menghadap ke kementerian sekitar tiga kali ke Jakarta,” kata Budi.
Perjuangannya bolak-balik ke Jakarta membuahkan hasil. Tanah seluas 72 hektare bisa dikelola oleh KTH setempat.
”Kalau yang di atas (spot take-off paralayang) itu (luasnya) 6,2 hektar,” Tambah Budi.
Menurut dia, baru tahun 2023 mereka bisa leluasa melakukan penataan.
Baca Juga: Keindahan Alam Jadi Unggulan Paralayang Kota Batu
Pembangunan yang sudah dilakukan seperti membangun fasilitas umum dan membuka warung. Pada 2018, langsung diadakan event paralayang untuk pertama kalinya.
Setahun berselang, lokasi di sana dipercaya menjadi tempat grand final turnamen paralayang tingkat nasional.
Saat itu ada 150 peserta dari berbagai daerah yang ambil bagian.
Budi menyebut bila Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) punya andil besar untuk membantu mempromosikan Pantai Modangan.
Sampai saat ini, spot paralayang di sana sudah sembilan kali ditunjuk sebagai venue kejuaraan.
Dua kali event berstandar nasional.
Tujuh lainnya berskala regional Jatim.
”Bulan Desember nanti ada liga (paralayang) Jatim yang digelar di sini,” imbuh Budi.
Hadirnya event turut membantu perekonomian warga setempat.
Selain berjualan, warga juga berpartisipasi dengan menjadikan rumah mereka sebagai penginapan.
Ada sekitar 20 warga yang memanfaatkan rumahnya sebagai tempat penginapan ketika ada event.
”Pengaruhnya paralayang cukup besar. Yang dulu cuma petani hutan, sekarang juga bisa berdagang,” kata Budi.
Salah satu keunggulan paralayang di Pantai Modangan ialah jenis angin laminar.
Karakter anginnya yakni stabil dalam hal kecepatan dan arah.
Sehingga aman digunakan bagi belajar siswa paralayang.
Baca Juga: Paralayang Jadi Salah Satu Andalan Sport Tourism
Untuk keperluan event juga sudah mencukupi, sebab bisa mencapai lebih dari enam round.
Saat kompetisi, estimasi itu diperlukan.
Dalam satu round, rombongan peserta bakal terbang satu kali.
Ketika angin sedang bagus, mereka bisa melakukan top landing atau mendarat di tempat mereka take-off.
Sehingga pilot paralayang, bisa terbang sesuka dan selama mereka mau.
Bahkan mereka yang ingin merasakan sensasi berbeda bisa melakukan terbang paralayang di malam hari atau full moon.
Percobaan pertama kalinya dilakukan sekitar tahun 2023.
Itu menjadi yang pertama di Indonesia. Lokasi lainnya yang turut dijajal yakni di Salena Paralayang Site Palu, Sulawesi Tengah.
”Saat-saat angin bagus itu dari bulan 11 sampai bulan 4,” tambah Thomas Sabarudin, salah satu pengurus Paralayang Indonesia.
Selain digunakan untuk paralayang, tempat tersebut juga bisa digunakan untuk camping dengan pemandangan lautan lepas.
Pengembangan ke depan bakal terus dilakukan.
Baca Juga: Di Kota Batu, Tiga Kakak Beradik Bisa Koleksi 40 Medali Paralayang
Mereka sudah menyiapkan masterplan untuk Pantai Modangan dan paralayang di sana.
Seperti rencana membuat balai pertemuan hingga kolam renang.
”Konsepnya seperti di Bali,” kata Khoirul Ansori, yang kini menjabat sebagai salah satu anggota Manajemen Bukit Waung, Pantai Modangan.
Perbaikan jalan Karangkates-Modangan yang sudah selesai digarap beberapa waktu lalu turut memberi andil.
Jalan baru itu berdampak pada kunjungan wisatawan di Pantai Modangan, yang naik lebih dari lima kali lipat.
Kini, per pekan ada 500 hingga 1.000 wisatawan yang datang ke sana. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana