Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tak Diminati Pasar Lokal Malang, Wood Pellet Malah Tembus Korea

Mahmudan • Minggu, 29 September 2024 | 14:05 WIB
Proses pengolahan  biomasa atau sampah lahan pangan dna bio organik menjadi wood pellet di PT Aharu Cakra Indonesia, Singosari, Kabupaten Malang
Proses pengolahan biomasa atau sampah lahan pangan dna bio organik menjadi wood pellet di PT Aharu Cakra Indonesia, Singosari, Kabupaten Malang

  

PAKIS - Bahan bakar alternatif sangat bermanfaat untuk menghemat sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Seperti wood pellet yang bisa menggantikan fungsi batu bara. Namun manfaat bahan bakar alternatif belum tersosialisasikan ke pelaku industri. Sehingga tidak banyak yang menggunakan bahan bakar tersebut. Utamanya di Kabupaten Malang.

Produsen Wood Pellet Firman Ferdiansyah mengatakan, harga wood pellet sangat terjangkau. Manfaatnya juga bisa menggantikan LPG, sehingga cocok untuk industri. “Satu kilogram wood pellet hanya Rp 1.700. Itu bisa nyala dengan api besar sampai sekitar dua jam,” ujar Firman, Jumat lalu (27/9). ”Kalau untuk pelaku industri akan sangat hemat,” tambahnya.

Untuk diketahui, wood pellet mengandung kalori sampai 3.500 kilokalori (kkal). Sehingga dapat dijadikan alternatif pengganti bahan bakar batu bara dan minyak bumi. Selain itu, dia melanjutkan, wood pellet juga dapat digunakan untuk alas hewan ternak agar selalu steril dan higienis. Kemudian untuk sumber energi panas sebagai penghangat ruangan, penghangat kandang ternak, hingga kompor penggorengan industri.

“Wood pellet ini terbuat dari limbah-limbah tripleks, tebu, dan lain-lain. Daripada tidak terpakai, lebih baik diolah kembali,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Direktur BUMDesma Bululawang itu.

Biasanya dia mengambil limbah yang dibuang di tempat penampungan. Tapi karena banyaknya permintaan dari luar negeri, dia memutuskan untuk membeli limbah kayu tersebut.

Meski kurang diminati di pasar lokal, Firman menyebutkan, wood pellet justru sangat dibutuhkan di Korea Selatan (Korsel). Per bulan, kebutuhannya mencapai sekitar 400 ribu ton. Namun karena keterbatasan bahan baku, pabriknya hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 36 ribu ton per bulan. Itu pun jika tidak memenuhi, akan digabungkan dengan produksi dari pabrik lain. “Makanya saya sering mengajak teman-teman mendirikan tempat pengolahan bahan baku daripada mendirikan tempat wood pellet baru,” pungkasnya.(yun/dan).

Editor : Mahmudan
#bahan bakar alternatif #Wood Pellet #Kabupaten Malang