Didominasi Anak-Anak dan Remaja
KEPANJEN - Penyakit gondongan perlu diwaspadai.
Data dinas kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengungkap angka penderita penyakit gondongan relatif tinggi.
Terhitung Januari hingga September lalu tercatat 2.001 jiwa terkena gondongan.
Mayoritas diderita anak-anak sampai remaja, yakni rentang usia 5-14 tahun.
”Sekitar 81,9 persen atau 1.639 kasus dialami oleh anak-anak,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kabupaten Malang dr Nur Syamsu Dhuha kemarin (28/10).
Untuk diketahui, gondongan adalah pembengkakan kelenjar parotis akibat infeksi virus paramyxovirus.
Kelenjar tersebut merupakan yang terbesar dari tiga kelenjar ludah utama.
Penyakit tersebut ditandai dengan pembengkakan di area wajah, tepatnya area di bawah telinga.
Gondongan rentan pada anak usia 2-14 tahun.
”Penyakit gondongan itu bisa menular. Proses penularannya sama dengan penularan flu, yaitu melalui percikan air liur atau ludah, batuk, dan bersin,” kata dia.
Dia juga menjelaskan, anak yang terkena gondongan dapat menyebarkan virus ke orang lain dalam kurun 17 hari sebelum gejala muncul.
Namun tetap ada risiko penularan dalam kurun 59 hari setelah gejala muncul.
”Antisipasi gondongan dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Karena menular, dianjurkan tidak berbagi peralatan mandi atau makan dengan penderita,” kata Syamsu Dhuha yang juga merangkap Kepala Puskesmas Singosari itu.
Sementara itu, Dinkes Kabupaten Malang terus berupaya mencegah peningkatan penyakit gondongan.
Di antaranya sosialisasi dan edukasi tentang parotitis atau gondongan di sekolah.
Kemudian melakukan surveilans aktif di sekolah melalui jejaring UKS.
Jika ada siswa, pendidik, maupun tenaga kependidikan yang menderita gondongan, sekolahnya diliburkan sekurang-kurangnya dalam 7 hari sejak munculnya gejala sakit (gejala klinis).
”Dianjurkan juga mengenakan masker bagi warga sekolah jika di sekolahnya ditemukan parotitis atau gondongan sampai dengan 7 hari setelah kasus terakhir sembuh,” lanjut Syamsu.
Kemudian cuci tangan setelah bersentuhan dan berada di lingkungan berisiko sebelum melakukan aktivitas lain.
Terakhir yakni menjaga jarak interaksi dengan siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan yang terinfeksi gondongan. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana