Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Terapkan Terapi Bulanan, Gratiskan Biaya Pendidikan

Bayu Mulya Putra • Kamis, 31 Oktober 2024 | 14:31 WIB
BERNIAT MEMBANTU: Noviana (kiri) berfoto bersama dua guru dan siswa-siswinya, Senin lalu (28/10).
BERNIAT MEMBANTU: Noviana (kiri) berfoto bersama dua guru dan siswa-siswinya, Senin lalu (28/10).

SEMBILAN anak menikmati waktu bermain di ruang terapi sensorik, Senin pagi (28/10).

Ada yang bermain trampolin, seluncuran, dan berlarian di ruangan berukuran sekitar 15 meter persegi itu.

Mereka adalah anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) yang selesai belajar di Sekolah Sensorik Motorik Bocah Pinter.

Sekolah tersebut terletak di Desa Jabung, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Saat disambangi Jawa Pos Radar Malang, mereka tengah menunggu dijemput orang tuanya masing-masing.

Sebenarnya ada 11 pelajar yang bersekolah di sana Namun, pada saat itu, dua murid lainnya berhalangan hadir karena sakit.

”Dari 11 murid itu, ada tiga anak autisme, tiga anak down syndrome, tiga anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), dan dua anak Retardasi Mental (RM atau IQ di bawah rata-rata),” ujar Pendiri Sekolah Sensorik Motorik Bocah Pinter Noviana.

Untuk diketahui, autisme merupakan gangguan perilaku dan interaksi sosial akibat kelainan perkembangan saraf otak.

Kondisi tersebut menyebabkan penderitanya sulit berkomunikasi, berhubungan sosial, dan belajar.

Kemudian, down syndrome merupakan kondisi yang menyebabkan anak dilahirkan dengan kromosom berlebih atau kromosom ke-21.

Akibatnya, anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan fisik dan mental.

Selanjutnya, ADHD yakni gangguan mental berupa perilaku impulsif dan hiperaktif.

Gejala ADHD membuat anak anak kesulitan memusatkan perhatian pada satu hal dalam satu waktu.

Sedangkan, RM yakni kecerdasan di bawah rata-rata.

Sistem pembelajaran di sekolah sensorik motorik tentu berbeda dengan sekolah umum.

Di sekolah tersebut, begitu masuk sekolah pukul 07.30, anak akan menjalani terapi sensorik terlebih dahulu.

Di dalam ruangan, mereka akan menerima sejumlah perintah dari guru.

”Misalnya, kami memerintah kan mereka untuk merangkak. Anak-anak harus mengikuti perintah tersebut. Jika ada penolakan, kami akan memaksa, supaya mereka mengikuti perintah tersebut,” ucap alumnus program studi Psikologi Universitas Wisnuwardhana tersebut.

Awal-awal terapi, anak cenderung memberontak.

Namun, setelah dibiasakan, mereka dapat merespons perintah tersebut dengan positif.

Ketika berhasil menjalankan perintah guru, anak anak bebas bermain sepuasnya.

Dalam satu hari, mereka akan berada di ruang terapi sensorik selama 1,5 jam.

Kemudian, mereka bakal masuk keruang kelas. Di dalam ruangan tersebut, anak-anak diajak menyanyi hingga dikenalkan dengan huruf dan angka.

”Begitu selesai, anak-anak akan masuk ke ruangan satu per satu untuk mengerjakan tugas. Kami sudah menyiapkan work sheet-nya,” kata perempuan berusia 40 tahun itu.

Pembelajaran one by one tersebut dianggap lebih efektif.

Sebab, anak dapat fokus meski hanya belajar dengan waktu singkat.

Belajar dari pengalaman Novi, saat belajar bersama di kelas, anak-anak malah menjadi tidak fokus.

”Biasanya anak autisme itu marah saat berada di keramaian, begitu masuk ruangan, anak tersebut bisa kami atur,” imbuhnya.

Dalam pembelajaran one by one, setiap anak menerima perlakuan yang berbeda sesuai dengan kemampuannya.

Sebagai contoh, jika anak tersebut sudah mandiri, guru akan memandu dan mengawasi.

Sebab, anak tersebut sudah bisa mengerjakan tugasnya sendiri.

Namun, jika anak masih belum mandiri, guru akan bekerja lebih ekstra.

Tugas yang diberikan pun tidak banyak seperti sekolah pada umumnya.

Misalnya dalam satu hari hanya mencocokkan gambar dan menempel. Itu pun hanya tiga kali menempel.

Pembelajaran terkait kebiasaan sehari-hari juga diberikan. Seperti pembiasaan makan sendiri.

Anak-anak akan membawa makanan sendiri dari rumah.

Kemudian, dibiarkan makan sendiri di dalam satu ruangan.

Biasanya ada anak yang berusaha mengambil makanan temannya.

Guru akan melarang hal tersebut. Supaya tidak menjadi kebiasaan buruk saat mereka berada di lingkungan luar.

”Namun, perkembangan anak-anak juga bergantung dengan peran orang tua di rumah,” kata Novi.

Dia mulai fokus mengembangkan Sekolah Sensorik Motorik Bocah Pinter saat pandemi Covid-19.

Saat itu, Novi yang sebelumnya menjadi terapis ABK di salah satu lembaga di Kota Malang terpaksa berhenti beraktivitas.

Namun, para orang tua memintanya untuk mengajar anak-anak secara privat.

Novi pun tetap memberikan pelayanan terbaiknya meski hanya dilakukan di rumahnya.

Seiring bertambahnya ABK yang terapi, pada 2021 Novi mendirikan layanan terapi sensorik motorik di Desa Jabung, Kecamatan Jabung.

Pada awal-awal, jumlah peserta terapinya sekitar 30-an anak. Karena pengalamannya, banyak anak yang cocok ketika terapi di bawah bimbingannya.

Saat ini, ada seki tar 40an anak yang terapi di tempat itu. Beberapa tahun berjalan, Novi mendengar keluhan dari orang tua yang kesulitan menyekolahkan anaknya di sekolah umum.

Kebetulan, sekitar awal 2024, ada orang yang menjual tanah tepat di samping lokasi terapi sensorik motoriknya.

”Saya modal bismillah membeli tanah itu dan mendirikan sekolah sensorik motorik ini. Tahun ajaran baru 2024 (bulan Juli) ini resmi dibuka,” kata dia.

Meski bangunannya belum sempurna, namun tempat tersebut tetap layak bagi anak anak.

Sekolah itu pun dibuka secara gratis. Orang tua hanya perlu mengambil paket terapi sensorik motorik dengan biaya Rp 600 ribu per bulan.

Jika hanya terapi, orang tua membayar Rp 60 ribu per jam.

Menurutnya, harga tersebut cukup terjangkau dibanding dengan tempat terapi lain di kota-kota besar, yang mencapai ratusan ribu per jam.

Saat ini, ada tiga guru yang membantunya mengajar di sana.

Selain mengajar, mereka juga membantu dalam melakukan terapi. Penggajian untuk mereka dilakukan per bulan.

”Meski pun gaji minim, Insya Allah niat kami membantu orang tua yang memiliki anak-anak spesial,” terang Novi. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#motorik #Kabupaten Malang #sensorik #anak berkebutuhan khusus (ABK)