Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

295 Desa di Kabupaten Malang Belum Berstatus Kawasan Wisata

Mahmudan • Senin, 2 Desember 2024 | 19:31 WIB
Keseruan wisatawan saat bermain di Banyumaro River Tubing.
Keseruan wisatawan saat bermain di Banyumaro River Tubing.

KEPANJEN – Kabupaten Malang punya banyak potensi wisata alam.

Namun dari total 378 desa seKabupaten Malang, 295 desa di antaranya belum menjadi desa wisata.

Sedang sisanya 83 desa dinobatkan menjadi desa wisata.

Itu pun mayoritas masih berstatus rintisan.

Jumlahnya 53 desa.

Puluhan desa wisata rintitan itulah yang harus dinaikkan kelasnya, sehingga lebih optimal dalam mendongkrak perekonomian.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang mengungkap, ada 53 desa wisata rintisan akan dinaikkan kelasnya pada tahun depan, sehingga menjadi desa wisata berkembang.

Peningkatan kelas tersebut disampaikan Kepala Disparbud Kabupaten Malang Purwoto.

Menurutnya, desa yang sudah ditetapkan sebagai desa wisata pasti akan mendapat intervensi dari pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Dengan harapan, dapat naik kelas menjadi desa wisata berkembang.

“Dari tim penilai pasti ada penilaian atau asesmen ketika akan memberikan pemeringkatan. Begitu ditetapkan, setelah intervensi, ada penilaian lagi,” ujarnya.

Purwoto juga menyampaikan, terdapat banyak aspek penilaian desa wisata.

Seperti kelembagaan, kemitraan, lingkungan dan pelestarian, peran masyarakat, atraksi wisata, aksesibilitas, amenitas, serta promosi dan pemasaran.

Penilaian aspek aspek tersebut, dia melanjutkan, dapat ditingkatkan dengan mengandalkan Sumber Daya Manusia (SDM) desa.

“Terkadang, masyarakat itu sangat mengetahui bahwa desanya punya potensi wisata, tetapi tidak tahu caranya supaya wisatanya dikunjungi,” kata pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Karena itu, dia melanjutkan, dibutuhkan kreasi dan inovasi SDM setempat untuk dapat memanfaatkan potensinya.

Sehingga potensi wisata itu dapat dikembangkan dan dapat menarik minat wisatawan.

“Seperti di Desa Kucur yang menjual wisata budaya asli desa. Ketika ada wisatawan, terutama wisatawan manca negara, mereka ajak wisatawan itu mengikuti kegiatan di desa. Misalnya, sekarang ini musim mberot, ya mereka diajak nonton,” imbuh Purwoto.

Dengan begitu, dia melanjutkan, desa wisata yang saat ini masih berstatus rintisan itu kerap kedatangan wisatawan mancanegara (wisman).

Utamanya dari negara negara Asia, seperti Tiongkok dan Korea Selatan.

Untuk diketahui, pada 2023 lalu, dari total 378 desa, telah ditetapkan 83 desa wisata.

Dengan rincian, 53 desa wisata rintisan, 18 desa wisata berkembang, delapan desa wisata maju, dan tiga desa mandiri.

“Usulan desa wisata itu harus dari desa. Harus ada kemauan masyarakat, pemdes (pemerintah desa), dan BPD (Badan Permusyawaratan Desa). Biasanya diawali dengan pembentukan pokdarwis,” pungkasnya. (yun/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#desa #wisata malang