TERAKHIR ada pembangunan jalan di Dusun Segelan Sidomulyo, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum dilakukan pada 2002 lalu.
Saat itu, yang menjadi Bupati Malang adalah Sujud Pribadi.
Seiring berjalannya waktu, aspal jalan di sana mulai mengalami kerusakan.
Secara bertahap, jalan di sana kembali terjal.
Paling parah terjadi pada 2016.
Saat itu, aspal-aspal sudah mulai mengelupas, namun bantuan dari desa maupun pemkab tak kunjung turun.
Bersamaan dengan itu, Ferry Suwadi, salah satu warga asli sana yang sudah merantau ke Batam selama sembilan tahun sedang membangun masjid di kampung halamannya.
Dia yang menjadi salah satu juragan bakso di Batam turut mendengar kondisi jalan di sekitar rumahnya mulai rusak.
Ferry pun berniat memperbaiki jalan Selain itu, lapangan di desanya juga ikut diperbaiki.
”Pak Ferry rutin mengirimkan sejumlah uang untuk membeli material jalan,” ujar Yudha Prasetya, Ketua RT 01/RW 16, Dusun Segelan Sidomulyo.
Oleh warga, uang itu digunakan untuk belanja material.
Mulai dari semen, batu, pasir, hingga menyewa truk molen untuk mengaduk material.
Sementara warga bergotong royong menyumbang tenaga dan konsumsi.
Setiap hari, sekitar 20 sampai 25 warga bergotongroyong memperbaiki jalan.
”Awalnya Pak Ferry membantu pembangunan jalan dekat rumahnya, dicor sekitar 500 meter,” tambah Yudha.
Karena bantuan yang diajukan ke pemerintah belum turun, akhirnya pembangunan jalan di sana berlanjut hingga di depan rumah Yudha.
Jaraknya sekitar 250 meter.
Bantuan itu sangat berguna untuk warga Dusun Segelan Sidomulyo.
Sebab jalan itu adalah akses utama mereka untuk beraktivitas.
Pembangunan itu pun akan terus berlanjut hingga seluruh jalan di Dusun Segelan Sidomulyo kembali mulus.
”Namun pengerjaannya dilakukan tiap kemarau saja,” lanjut Yudha.
Sebab ketika musim hujan, tanah di Dusun Segelan yang bertekstur seperti tanah liat dan cukup sulit dicor.
Untuk itu, tiap musim kemarau, warga dari seluruh RT di Dusun Segelan Sidomulyo bergantian membangun jalan.
Kebaikan Ferry juga diakui Antok Johanes, Kepala Dusun Segelan Sidomulyo.
Menurutnya, sudah tidak terhitung uang yang dikeluarkan Ferry untuk membantu memakmurkan masyarakat di Dusun Segelan Sidomulyo.
Kendati demikian, tiap pulang ke rumahnya satu bulan sekali, Ferry tidak pernah mengungkitnya.
”Bahkan beliau sendiri lupa sudah habis berapa untuk desa,” kata Antok.
Bisnis bakso yang dijalaninya di Batam terbilang sukses. ”Saya merantau mulai tahun 1992,” ujar Ferry lewat sambungan telepon.
Awalnya, dia merantau ke Jawa Barat selama satu tahun dan ikut orang berjualan bakso.
Saat itu umur Ferry masih 16 tahun.
Lalu dia memutuskan untuk berpindah ke Bali.
Selama dua tahun di sana, dia bekerja ke orang untuk berjualan bakso hingga usia 19 tahun.
Baru pada usia 19 tahun Ferry pindah ke Batam.
Di sana, dengan pengalaman tiga tahun berjualan bakso, dia mulai mengutakatik resep yang dihapalnya.
Tak disangka, resep itu banyak disukai oleh orang Batam.
Ferry mengaku butuh waktu 10 tahun hingga berhasil menarik minat orang Batam untuk menggemari baksonya.
Hingga saat ini, Ferry sudah memiliki delapan cabang gerai bakso di Batam.
Bakso itu dia beri nama Bakso Gunung.
Terinspirasi dari asal rumahnya yang berada di Gunung Kawi.
Tak disangka, dia mampu menghasilkan banyak pundi pundi uang dan menyumbangkan dana ke kampung halamannya.
”Jujur saya tidak ingat sudah berapa yang saya kirim untuk desa. Prinsip saya yang penting bermanfaat untuk orang banyak, berapa pun asal saya punya akan saya kirimkan,” pungkas Ferry. (*/by)
Editor : Aditya Novrian