Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang mencatat ada ratusan sekolah rusak.
Rata-rata karena bangunan sudah lapuk, sementara minim perawatan.
Bagaimana proses belajar mengajar di sekolah rusak?
TAHUN lalu, disdik mengungkap ada 206 SD yang mengalami kerusakan di bagian ruang kelas.
Rinciannya, 46 lembaga rusak ringan, 66 lembaga rusak sedang, dan 94 lembaga rusak berat.
Jawa Pos Radar Kanjuruhan memantau kondisi pembelajaran di beberapa sekolah rusak tersebut.
Salah satunya di SDN 1 Kidangbang, Kecamatan Wajak.
Di sekolah tersebut terdapat tiga ruang rusak.
Gedung tersebut sudah dibangun sejak 2003 dan belum ada renovasi sama sekali
Dengan demikian, 20 tahun lebih tanpa perawatan, sehingga kondisinya mengenaskan, seperti atap lapuk dan beberapa plafon ruang kelas ambrol.
“Saat hujan, gedungnya bukan bocor lagi, tapi airnya langsung masuk. Jadi gedung kelas dua itu sudah tidak digunakan lagi,” ucap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 1 Kidangbang Ipik Kusmartini Jumat lalu (17/1).
Akibatnya, siswa-siswi kelas tersebut yang seharusnya dipisah menjadi dua rombel, terpaksa digabung menjadi satu rombel.
Dalam satu ruangan yang idealnya berisi 32 siswa, menjadi 40 an siswa.
Untuk diketahui, di sekolah tersebut ada 224 siswa kelas 1-6.
Kondisi tak jauh beda juga terlihat di SDN 2 Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo.
Terdapat satu ruang kelas 2 yang plafonnya ambrol.
Akibatnya, empat siswa kelas 2 itu menggunakan ruangan lain untuk proses belajar-mengajar.
Kepala SDN 2 Wringinanom Wijiasmani menyatakan, bangunan itu berdiri sejak 1950 dan terakhir direhabilitasi pada 2007 silam.
Rehabilitasi itu berupa tambal sulam dinding yang mulai retak.
“Kerusakan plafon sebenarnya sejak 2021 lalu. Tapi masih rusak ringan,” ucapnya.
Sejak tahun itu, pihaknya mengajukan proposal perbaikan sekolah ke pemerintah kabupaten (Pemkab) Malang.
Meskipun mengajukan sebanyak empat kali, yakni dari 2021-2024, gedung itu tidak kunjung diperbaiki.
Seiring berjalannya waktu, kerusakan semakin parah.
Hingga pada 2024 lalu, plafon mulai ambrol dan berlubang.
Sedangkan di SDN 1 Sidodadi, Kecamatan Lawang mengatakan, terdapat tiga kelas yang atapnya ambruk.
Yaitu ruang kelas 2, 3, dan 4.
Namun hingga saat ini belum ada perbaikan dari Dinas Pendidikan.
Karena tempat yang terbatas, murid-murid itu harus belajar di ruang seadanya.
Mulai dari kelas 2 yang menempati ruang musala dengan luas 5x6 meter persegi.
Dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, sebanyak 23 siswa harus belajar dengan lesehan.
Hanya ada meja-meja kecil di depan mereka sebagai penyangga saat mencatat atau mengerjakan tugas dari guru.
“Kadang anak-anak di musala sering mengeluh punggungnya pegal-pegal,” ucap Sugianto, Kepala SDN 1 Sidodadi.
Sugianto mengatakan, beberapa siswa juga mengeluh kedinginan karena hanya belajar dengan alas karpet tipis.
Bahkan kondisi pembelajaran yang tidak nyaman itu berdampak pada konsentrasi siswa yang mudah hilang.
Sementara kelas 3 diletakkan di ruang pojok dengan ukuran 4x5 meter persegi.
Sebenarnya ruangan itu dibangun untuk ruang TIK.
Namun karena musibah robohnya tiga ruang kelas, terpaksa digunakan pembelajaran kelas tiga.
Sebanyak 19 siswa duduk di bangku yang dirapatkan di tengah ruangan.
Sebab mayoritas bangku mereka hancur saat tertimpa puing-puing atap.
Tak hanya di SDN 1 Sidodadi, kejadian serupa juga dialami SDN 7 Sumbermanjingkulon.
Bangunan sekolah itu sudah berdiri sejak 1990-an.
Namun selama 20 tahun lebih belum mendapat bantuan perbaikan sama sekali.
Padahal banyak ruang kelas di sana yang butuh perbaikan.
Kepala SDN 7 Sumbermanjingkulon Supiyah Eni Rahayu menyebut ada sekitar tujuh titik yang mengalami kerusakan di sekolahnya.
Yaitu ruang kelas 5 yang bocor dan plafonnya berlubang, dinding bagian belakang gedung sekolah yang retak, bahkan gedung yang baru dibangun pun mengalami kerusakan.
“Bagian plafon di depan ruangan saya ada yang berlubang,’ lanjut Eni.
Menurutnya yang patut menjadi prioritas adalah gedung kelas 5.
Sebab hingga kini gedung tersebut menjadi tempat belajar-mengajar.
Anak-anak pun belajar dengan risiko yang sangat tinggi.
Sebab kerangka gedung itu masih terbuat dari kayu karena bangunan lama.
Terlihat beberapa sudah lapuk, bahkan dinding-dindingnya juga banyak yang retak.
“Karena di sekolah ini memang rawan tanah gerak,” pungkas Eni. (yun/aff/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana