Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

2.317 Ibu Hamil di Kabupaten Malang Mengidap Anemia

Mahmudan • Rabu, 22 Januari 2025 | 18:00 WIB
FARIZZA/RADAR MALANG
FARIZZA/RADAR MALANG

“Tahun lalu kami mencatat ada 92 ibu hamil yang terdeteksi memiliki ane mia kurang dari delapan (kategori berat).” 

RITA HANDAYANI
Petugas Seksi KIA Dinkes Kabupaten Malang

92 Orang Berisiko Pendarahan hingga Lahirkan Bayi Prematur 

KEPANJEN – Sebanyak 2.317 ibu hamil di Kabupaten Malang mengalami anemia. 

Sekitar 92 di antaranya masuk kategori berat. 

Risikonya mengalami pendarahan saat persalinan hingga melahirkan bayi prematur (selengkapnya baca grafis). 

FARIZZA/RADAR MALANG
FARIZZA/RADAR MALANG

Gejalanya beragam. 

Ada yang pusing-pusing selama proses kehamilan, badan terasa lemas, sesak napas, hingga detak jantung lebih cepat dari sebelumnya.

“Tahun lalu kami mencatat ada 92 ibu hamil yang terdeteksi memiliki anemia kurang dari delapan (kategori berat),” ujar Petugas Seksi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Rita Handayani kemarin. 

Faktor penyebab ribuan ibu hamil mengalami anemia beragam. 

Mulai dari kekurangan zat besi, kekurangan vitamin B12, pola makan yang tidak sehat, hingga gangguan sistem imun pada tubuh 

Sebelumnya, dia mengatakan, dinkes mengidentifikasi beberapa bayi prematur. 

Namun dia tidak bisa memastikan jumlahnya. 

Selain itu, dia mencatat dua ibu hamil yang mengalami pendarahan saat persalinan karena jumlah hemoglobin (HB) di bawah delapan. 

Saat itu kasus tersebut berhasil ditangani oleh tenaga medis. 

Sehingga pada tahun lalu, ibu hamil yang menderita anemia tidak ada yang sampai berujung pada kematian. 

Dia mengatakan, beberapa bayi yang terlahir dengan berat badan kurang atau prematur terus dipantau oleh dinkes. 

Pemantauan dengan evaluasi secara berkala melalui Posyandu. 

Setidaknya, selama masa pertumbuhan bayi dalam waktu dua tahun perawatan harus dimaksimalkan untuk menghindari stunting (pertumbuhan terhambat). 

“Khusus ibu hamil dengan anemia yang anaknya lahir prematur didampingi secara intensif,” lanjut Rita. 

Ke depan, pihaknya terus memaksimalkan pemantauan. 

“Untuk pengontrolan anemia pada ibu hamil sudah kami pantau dari posyandu ibu hamil,” kata Rita. 

Secara rutin, kondisi kehamilan dan pertumbuhan janin akan dipantau. 

Namun para ibu hamil dengan anemia juga diharapkan menyeimbangkan dengan rutin kontrol ke dokter. 

Tiap tahun, dinkes juga rutin skrining HB pada remaja putri kelas VII SMP dan X SMA. 

Bahkan tiap minggu, seluruh remaja putri mendapat Tablet Tambah Darah (TTD). 

Hal itu dilakukan untuk mengontrol kesehatan perempuan di Kabupaten Malang agar tidak mengalami anemia saat hamil nanti. (aff/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kabupaten Malang #anemia #ibu hamil #pendarahan