KABUPATEN - Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bendungan Sutami membuat petani pembudidaya ikan di Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung resah.
Mereka khawatir, lahan untuk keramba jaring apung akan terdampak.
Sebagai informasi, PLTS akan dibangun terapung di Waduk Karangkates.
Saat ini waduk tersebut sudah dimanfaatkan PT PLN NP untuk mengoperasikan PLTA Sutami dengan kapasitas 3 x 35 MW.
Ke depan, pengembangan PLTS akan memaksimalkan pemanfaatan Waduk Sutami sebagai sumber energi terbarukan.
”Ini sudah positif dibuat PLTS. Pembudidaya ikan yang memanfaatkan keramba pasti akan terdampak. Jadi ada yang tergusur,” ujar Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Muri Makmur Sutami I Wasis.
Menurut Wasis, jumlah anggota Pokdakan mencapai 66 orang petani.
Rata-rata para petani memiliki empat keramba.
Jika ditotal mencapai 264 keramba.
Luas masing-masing keramba berbeda.
Ada yang 10 meter kali 30 meter, 15 meter kali 30 meter, hingga 20 meter kali 30 meter.
”Secara keseluruhan luas keramba mencapai 20 hektare,” ujarnya.
Komoditas yang dikembangkan para petani adalah ikan nila dan bandeng.
Setiap panen, masing-masing keramba bisa menghasilkan 5-7 kuintal ikan.
Panen ikan berlangsung sekitar delapan bulan sekali.
Itu jika ikan diberikan makanan secara teratur dan suhu selalu mendukung.
Jika terjadi permasalahan, panen dapat berlangsung satu tahun sekali.
Hasil panen tersebut langsung dipasarkan di tengkulak dari sekitar Kecamatan Sumberpucung.
Menanggapi kekhawatiran pembudidaya ikan, Bupati Malang H M.
Sanusi me minta mereka untuk menunggu.
Sebab, dari pihak PLTA belum ada pemberitahuan secara resmi.
Dia juga berharap PLTS dapat dialihkan ke tempat lain.
“Karena keramba ini bagian dari mata pencaharian masyarakat di sini. Semoga bisa berkelanjutan,” kata Sanusi.
Seperti diberitakan sebelumnya, PLTS Bendungan Sutami direncanakan dibangun tahun ini.
Kapasitasnya setara dengan PLTA, yakni sekitar 105 MWac (megawatt arus bolak-balik).
Karena bendungan penuh dengan air, penempatan solar panel akan dilakukan berhati-hati agar tidak ada gangguan dalam melakukan perawatan. (yun/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana