Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Harga Kedelai Impor Mulai Turun

Mahmudan • Kamis, 23 Januari 2025 | 14:05 WIB

 

PRODUK LOKAL: Seorang pekerja home industri tempe di Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen mengeringkan ampas kedelai untuk diolah menjadi tempe menjes
PRODUK LOKAL: Seorang pekerja home industri tempe di Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen mengeringkan ampas kedelai untuk diolah menjadi tempe menjes

 

 

KEPANJEN – Produsen tempe di Bumi Kanjuruhan bisa mengais untung lebih dari biasanya. Sebab, harga kedelai impor yang menjadi bahan baku mulai turun. Bulan lalu masih berkisar Rp 12.000, kemarin (22/1) turun menjadi Rp 9.000 per kilogram. Penurunan harga kedelai berdampak pada biaya produksi.

”Kalau harga kedelai naik, kami tidak bisa ikut menaikkan harga,” ujar Musrifah, salah satu produsen tempe menjes dan tempe bungkil di Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen kemarin (22/1).

Harganya Rp 5.000 per tiga kotak. Satu kotaknya berukuran panjang sekitar 20 sentimeter, lebar sekitar 5 sentimeter, dan ketebalan sekitar 3 sentimeter. “Kalau harga naik, alternatifnya ya kami mengurangi sedikit ukuran produknya,” imbuh perempuan berusia 53 tahun itu.

Pengurangan ukuran produk dilakukan untuk menekan biaya produksi. Tapi setelah harga kedelai turun seperti saat ini, mereka tidak perlu mengurangi ukuran produk, bahkan bisa menambah sehingga semakin laris.

Untuk membuat produk olahan kedelai tersebut, dia menjelaskan, kedelai yang sudah diolah menjadi tahu akan diambil ampasnya. Ampas tersebut dikeringkan namun sebelumnya direbus terlebih dahulu. Terakhir, ampas tahu yang sudah matang dibentuk sesuai cetakan.

Musrifah memaparkan tantangan produsen tempe. Selain kenaikan harga kedelai, dia mengatakan, kenaikan LPG ukuran 3 kilogram juga menjadi tantangan. Ketika harga elpiji turun, dia hanya mengeluarkan Rp 18 ribu per LPG kemasan 3 kilogram. Tapi ketika naik bisa mencapai Rp 20 ribu per LPG. Padahal dalam satu hari, dia biasa menghabiskan empat unit LPG. Sehingga hanya untuk LPG, dia mengeluarkan Rp 80 ribu per hari.

Saat menghadapi tantangan tersebut, dia hanya pasrah. Sebab memang sudah kebutuhan yang tidak bisa digantikan. Seperti halnya kenaikan kedelai, untuk mengatasi kenaikan LPG, dia pun hanya bisa mengurangi ukuran produk. “Pengaruhnya ke keuntungan. Kalau semuanya sedang naik, keuntungan hanya bisa untuk makan sehari-hari saja,” kata ibu tiga anak itu. (yun/dan).

Editor : Mahmudan
#kedelai impor #malang #tempe