DAU – Kerajinan ecoprint asal Bumi Kanjuruhan makin diminati banyak kalangan.
Pembelinya tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga sampai mancanegara.
Itulah yang dirasakan oleh Siti Mutdrika, produsen ecoprint asal Desa Landungsari, Kecamatan Dau.
Produknya sudah dipasarkan hingga Hongkong dan Australia.
“Teman kami ada yang di Hongkong. Jadi kami menjual melalui dia. Kalau yang di Australia, ada pelanggan yang memesan, lalu repeat order terus,” ujar Ika ditemui di Sanggar Kreasi Mamalya kemarin (5/2).
Pengirimannya menggunakan ekspedisi DSL.
Untuk pemasaran ke mancanegara tidak ada batas minimum pembelian.
Biasanya, pembeli dari luar negeri memesan 35 produk.
Sedangkan pemasaran di dalam negeri sudah sampai ke seluruh Indonesia.
Pemasarannya masih manual, belum menggunakan marketplace.
Sementara di sanggar tersebut terdapat berbagai jenis produk.
Mulai dari kain, pakaian, tas, sepatu, sandal, boneka, dan pernak-pernik lain.
Harganya pun bervariasi.
Paling murah Rp 25.000 seperti boneka dan paling mahal Rp 2 juta.
“Paling laris itu tas, sepatu, sandal, dan cenderamata. Jadi tidak terbatas di kain saja,” kata perempuan berusia 42 tahun itu.
Dia juga menjelaskan, setiap hari bisa memproduksi 30 lembar kain dengan panjang 2,5 meter dan lebar 1,2 meter.
Kain tersebut kemudian dikreasikan menjadi berbagai produk.
Satu kain memerlukan waktu 23 jam untuk membuatnya.
Mulai dari menempel daun hingga mengukus kain supaya pigmen daun menempel sempurna di kain.
Untuk diketahui, ecoprint adalah teknik pembuatan motif kain yang memanfaatkan daun-daun dari tanaman liar.
Seperti daun eucalyptus maupun daun-daun dari tanaman yang sudah dikepras seperti daun jambu.
Sedangkan bunga yang dimanfaatkan seperti bunga cosmos, waru, dan gerbera.
“Daun yang digunakan itu yang bertanin tinggi, seperti mentoar, genitri, jati, dan jarak,” pungkasnya. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana