SUMBERPUCUNG – Meski anggaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terimbas efisiensi anggaran yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, operasional pemantauan gempa tidak boleh terganggu.
BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang rutin memantau ancaman gempa selama 24 jam.
Sebagai informasi, Malang raya termasuk salah satu daerah rawan gempa karena di bagian selatan Pulau Jawa terdapat lempeng Indo-Australia yang menyusut ke bawah lempeng Eurasia.
Lempeng Eurasia tersebut berada di atas langsung Pulau Jawa.
Sehingga dua lempeng tersebut dapat melakukan aktivitas subduksi.
Yakni proses geologi wilayah kerak bumi yang memiliki dua lempeng tektonik.
Hal itu menjadi salah satu penyebab gempa bumi.
Termasuk di Malang Selatan.
Karena itu, informasi terkait kejadian gempa bumi sangat dibutuhkan masyarakat.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Karangkates Ma’muri mengatakan, meskipun ada pemangkasan anggaran, secara operasional tidak terdampak.
“Pemantauan gempa bumi tetap kami lakukan 24 jam. Sensor kami yang tersebar di Jawa Timur akan tetap beroperasi,” ujar Ma’muri kemarin (13/2).
Dia mengatakan, BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang memiliki sekitar 20 an sensor di Jawa Timur (Jatim).
Di Kabupaten Malang terdapat tiga sensor.
Yakni Malang Jawa Indonesia (MLJI), Gedangan Jawa Indonesia (GEJI), dan Poncokusumo Jawa Indonesia (POKJI).
Kemudian yang terdekat yaitu Klakah Lumajang Jawa Indonesia (KLJI).
Getaran tanah bisa dikatakan gempa, ketika enam sensor yang saling berdekatan tersebut samasama mendeteksi gempa.
“BMKG pusat juga menginstruksikan untuk WFA (Work From Anywhere) pada hari Kamis bagi pegawai bidang administrasi,” ucap Ma’muri.
Tujuannya untuk efisiensi pemakaian listrik, air, dan sebagainya.
Pada jam kerja sehari-hari, efisiensi tetap dilakukan.
Utamanya listrik, seperti penggunaan AC, mematikan komputer yang tidak terpakai, pencahayaan secukupnya terutama di ruang administrasi atau ruang lainnya.
“Sedangkan untuk peralatan operasional, ruang pengamatan, dan analisis masih bekerja seperti biasa,” pungkasnya. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana