KEPANJEN – Bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang masih mengintai Bumi Kanjuruhan hingga April depan.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan.
Prediksi Sadono mengacu pada berlangsungnya musim hujan, yakni Januari-April 2025.
Dia memperkirakan, jumlah bencana yang terjadi akan lebih banyak dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Hal itu karena ada tanda-tanda La Nina.
”Sebenarnya tahun lalu juga ada La Nina. Bedanya, yang sekarang ini bibit La Nina lebih kecil,” kata Sadono kemarin.
Dia tidak menjelaskan bagaimana gejala La Nina.
Tapi umumnya ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut, kemarau basah (turun curah hujan tinggi di musim kemarau) dan peningkatan curah hujan antara 20 sampai 40 persen.
Data BPBD Kabupaten Malang, Januari sampai April 2024 lalu telah terjadi 73 bencana hidrometereologi.
Sedangkan tahun ini, sejak Januari sampai 23 Februari sudah terjadi 53 bencana.
”Rinciannya, 40 bencana terjadi pada bulan Januari dan sisanya 13 bencana pada bulan Februari.
Setidaknya sampai Minggu (23/2),” kata dia.
Bencana terbaru pada Sabtu lalu (22/2).
Berupa angin kencang menerpa Desa Banjararum, Kecamatan Singosari.
Imbasnya, 10 rumah mengalami kerusakan.
Mayoritas kerusakan bagian atap, mulai roboh hingga terbang tersapu angin.
Kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 6 juta.
Jumlah 53 bencana tersebut bisa saja bertambah.
Hal itu karena sekarang masih masuk pertengahan masa siaga bencana.
”Karena belum diketahui lagi apakah ada anomali cuaca atau tidak. Kami masih memantau terus bersama BMKG,” ujar Sadono. (biy/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana