Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tingkatkan Produktivitas Padi dengan Memaksimalkan Pemanfaatan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan)

A. Nugroho • Kamis, 3 April 2025 | 21:08 WIB
CANGGIH: Beberapa petani di Pakisaji, Kabupaten Malang memanen padi menggunakan alat dan mesin pertanian (Asintan) beberapa waktu lalu.
CANGGIH: Beberapa petani di Pakisaji, Kabupaten Malang memanen padi menggunakan alat dan mesin pertanian (Asintan) beberapa waktu lalu.

KEPANJEN - Produksi padi di Bumi Kanjuruhan terus menurun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang mengungkap, produksi padi 2024 mencapai 254.794 ton Gabah Kering Giling (GKG).

Jumlah tersebut menurun dibandingkan produksi pada 2023 yang mencapai 279.366 ton GKG.

Terdapat selisih sekitar 24.572 ton GKG.

Salah satu penyebab turunnya produksi tersebut adalah berkurangnya Lahan Baku Sawah (LBS) akibat alih fungsi lahan.

Menurut data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perke bunan (DTPHP) Kabupaten Malang, LBS pada 2019 seluas 44.375 hektare.

Kemudian pada usulan perubahan tata ruang, LBS pada 2024 menyusut menjadi 37.398 hektare.

Sehingga berkurang 6.977 hektare.

Salah satu upaya untuk mengatasi penurunan produksi dengan memaksimalkan pemanfaatan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan).

“Alsintan dari kami masih dalam proses di SIPD (Sistem Informasi Pem bangunan Daerah). Karena ada tambahan anggaran dari hasil refocusing ang garan,” ujar Kepala Bidang Sarana, Prasarana dan Penyuluhan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Mursidin Purwanto.

Jumlah kebutuhannya masih dalam penghim punan.

Dia menyebut, pihaknya akan menghimpun kebutuhan alsintan dari seluruh kecamatan sambil mengecek permintaan kelompok tani (poktan) saat sambang desa.

“Alsintan dari pemerintah pusat juga sudah kami ajukan,” imbuh pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Terpisah, Sunarko, salah satu petani di Desa Ge nengan meman faatkan alsintan untuk memper cepat proses panen.

“Kalau manual, sawah 2 hektare ini, satu minggu baru bisa selesai. Itu dengan sekitar 5 buruh tani. Kalau pakai alat ini, satu hari bisa selesai dengan sekitar 2-3 buruh tani,” ujarnya.

Dengan alsintan, hasil panen menjadi lebih banyak.

Sebagai contoh, jika meng gunakan mesin, sehari bisa panen 3 hektare.

Sedangkan kalau manual memerlukan 7 orang untuk panen 1 hektare.

Sehingga dengan menggunakan alsintan, dia bisa panen sekitar 15-21 ton per hari.

Sayangnya, alat tersebut bukan miliknya pribadi maupun milik kelompok tani.

Melainkan menyewa dari pihak swasta. “Kalau biaya sewanya, saya tidak bisa menyebutkan, yang jelas cukup mahal,” pungkasnya. (yun/dan)

Editor : A. Nugroho
#Produksi #badan pusat statistik #menurun #bps #gkg #Ton #Padi #gabah kering giling