Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Usaha yang Dikembangkan Dua Generasi Terpaksa Terhenti

Bayu Mulya Putra • Jumat, 11 April 2025 | 20:05 WIB
BATAL BUKA: Rizal, salah satu pengusaha konter pulsa dan aksesori HP memantau kios sewaannya pada Rabu malam (9/4).
BATAL BUKA: Rizal, salah satu pengusaha konter pulsa dan aksesori HP memantau kios sewaannya pada Rabu malam (9/4).

KIOS gorengan di Jalan Ki Ageng Gribig, Kecamatan Kedungkandang itu sudah dijalankan dua generasi.

Dibuka mulai tahun 1998.

Yang terakhir menjaganya yakni Amin dan Habibah, kakak beradik.

“Dulu ibu saya yang pertama berjualan di sini. Dulu, di kanan kiri masih rumput dan jalan raya belum selebar saat ini,” ujar Habibah.

Untuk sementara waktu, operasional kios gorengan itu harus berhenti.

Kebakaran yang terjadi pada Rabu malam (9/4) membuat Amin dan Habibah tak bisa kembali ke rutinitas harian.

Selain kios mereka, ada lima kios lain yang juga dilalap si jago merah.

Kemarin pagi (10/4), Habibah kembali mendatang lokasi kebakaran.

Dia mencari barang-barangnya yang mungkin masih selamat dari jilatan api.

Di sela-sela melakukan itu, kenangan terhadap lokasi usahanya tersebut langsung mengemuka.

Habibah masih ingat betul kapan dia sering bertandang ke sana.

Itu terjadi saat dia dan kakaknya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) di Lesanpuro.

Sejak saat itu, dia sering membantu orang tuanya berjualan.

Kios gorengan itu semakin berkembang setelah dikelola kakak beradik itu.

Mereka menambahkan minuman ringan dan kopi dalam daftar menu.

“Anak-anak karang taruna desa biasanya nongkrong di tempat saya,” kata Habibah.

Dibanding dengan kios yang lain, kios angkringan yang dikelola Habibah dan Amin itu berukuran lebih besar.

Ukurannya sekitar 9 x 8 meter.

Tidak banyak barang yang terselamatkan.

Hanya selusin gelas, kompor, dan beberapa keranjang yang masih bisa dibawa pulang.

Sisanya hangus.

Kepada Jawa Pos Radar Malang, Amin mengaku itu adalah satu-satunya mata pencariannya.

Kini, dia bersama adiknya harus mencari cara lain untuk mencari rezeki.

Di tempat yang sama, ada Muhammad Toha, 33, warga asal Kabupaten Bangkalan, Madura yang juga menjadi korban. Dia 12 tahun berjualan sate di sana.

“Sejak tahun 2013 (saya mulai buka),” ujar Toha.

Dulu, dia membeli lahan tersebut dari sesama kawan perantau.

Dia membeli bangunan kios semi permanen berukuran 15 meter persegi bersamaan dengan gerobak jualannya.

“Tahun itu saya beli dengan harga Rp 7 juta,” terang Toha.

Sebelum kebakaran, Toha sempat berjualan.

Sebab, umumnya dia mulai berjualan pukul 18.00 hingga 24.00.

Namun pada hari kejadian dagangannya laku lebih cepat.

“Kemarin (Rabu lalu) saya bawa 5 kilogram sate ayam dan kambing. Alhamdulillah laku cepat, pukul sembilan malam saya sudah pulang,” jelas Toha.

Saat berada di rumah, dia dikagetkan dengan kabar bahwa warungnya ikut terbakar.

“Habis semua, gerobak, kursi tidak ada yang tersisa,” jelas Toha.

Kemarin pagi dia sempat kembali memeriksa lapaknya sambil membereskan puingpuing.

Dia mencari apa pun barang miliknya yang masih terselamatkan.

“Saya punya kotak tabungan yang ditinggal di warung, kotak itu mungkin berisi Rp 500 ribu,” kata Toha.

Sampai kemarin pukul 10.00, kotak itu tak kunjung dia temukan.

Toha mengaku ia masih harus mencari tempat lain untuk berjualan.

Bapak dua anak itu juga bercerita bahwa para pemilik kios sepakat untuk tidak membawa musibah itu lebih jauh.

Mereka enggan mencari siapa yang bertanggung jawab atas kejadian itu.

“Ini sudah musibah dari yang di atas, kami terima saja, Insya Allah rezeki lain akan datang,” jelas Toha.

Selain Amin dan Toha sebagai pemain lama telah berjualan di sana, seorang pemuda bernama Rizal asal Polehan juga menjadi korban.

Berbeda dengan pedagang lainnya, Rizal menyewa kios di sana.

“Kami baru satu bulan yang lalu menyewa,” jelas Rizal.

Rencananya, dia akan membuka cabang kedua dari bisnis konter pulsa dan aksesori hand phone.

“Rencana kami mulai berjualan hari Kamis (kemarin),” kata Rizal saat dijumpai koran ini di lokasi kebakaran pada Rabu malam (9/4).

Bersama pasangannya, dia datang dan melihat lokasi.

Dia mengaku sudah menaruh dua etalase kaca dan beberapa aksesori HP.

Namun akibat kebakaran itu, semua barang yang sudah dipersiapkan telah termakan api.

Rizal mengaku belum bisa memperkirakan berapa banyak kerugian yang dialaminya.

Semua harus dia hitung kembali.

Baik dari biaya sewa tempat, jumlah barang yang hangus, dan perangkat lainnya. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#gorengan #kebakaran #usaha #Kios #kedungkandang