Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pembibitan Cabai di Turen Terhambat Cuaca

Mahmudan • Minggu, 13 April 2025 | 20:50 WIB
WASPADA: Petani cabai mempersiapkan tanamannya dari cuaca ekstrem agar terhindar dari berbagai bakteri dan hama.
WASPADA: Petani cabai mempersiapkan tanamannya dari cuaca ekstrem agar terhindar dari berbagai bakteri dan hama.

TUREN - Pembibitan cabai di Kecamatan Turen dan daerah lain harus ekstra waspada.

Sebab cuaca ekstrem membuat bibit lebih sering terkena hujan, sehingga media tanam terlalu basah dan meningkatkan kelembapan.

Risikonya muncul jamur dan bakteri yang mengganggu pertumbuhan bibit.

Oleh karena itu, para petani menutup hamparan lahan bibit cabainya menggunakan plastik.

Tujuannya untuk memastikan bibit tidak tergenang air hujan.

“Kalau kebanyakan air ya bisa busuk,” ujar Miftahul Ulum, salah satu petani cabai di Turen.

Dia mengatakan, pembibitan cabai di musim hujan memang repot.

Sebab dia harus membuka plastik penutup cabai setiap hari ketika cuaca cerah. Kemudian harus siaga menutup kembali ketika mendung.

“Biar kena matahari jadi plastik dibuka pas pagi,” kata petani 24 tahun itu.

Ulum memiliki lahan seluas 150 meter persegi.

Lahan berukuran 10x15 meter itu ditanami ribuan tanaman cabai yang siap jual.

Biasanya dia menjual bibit cabai umur 20-30 hari setelah semai seharga Rp 200 per bijinya.

Dengan tinggi sekitar 8-15 sentimeter, bibit itu sudah siap ditanam di ladang petani.

Pelanggan Ulum rata-rata petani dari Turen dan Karangploso.

Tiap pelanggan sekali pesan langsung lima ribu bibit.

Di pihak lain, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Saniputera mengatakan biasanya musim tanam cabai bulan November hingga Desember.

Di luar bulan tersebut, pembibitan cabai dilakukan sesuai permintaan pasar.

“Bulan Mei akhir diperkirakan musim panen raya cabai,” ujar Avicenna.

Namun pihaknya juga waspada akibat hujan yang ekstrem.

Sebab pengaruhnya meningkatkan risiko penyakit jamur dan virus gemini pada cabai.

Virus tersebut menjadikan cabai layu dan membusuk.

Saat ini, beberapa petani yang sudah panen cabai masuk pada masa panen awal (mbelik).

Sehingga produksi cabai masih rendah.

Namun tidak sampai ada penurunan produksi cabai di Kabupaten Malang.

Kendati demikian, Avicenna memastikan distribusi bibit cabai dan penanaman cabai sudah merata di Kabupaten Malang. (aff/dan) 

Editor : A. Nugroho
#Pembibitan #Hujan #Kabupaten Malang #turen #media tanam #cabai