Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Produsen Kerupuk UMKM di Kepanjen Kabupaten Malang Hasilkan 1 Ton Per Hari

Mahmudan • Kamis, 17 April 2025 | 18:12 WIB

PRODUKSI MENURUN: Seorang pegawai menggoreng kerupuk di home industry Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Kepanjen kemarin (16/4) (Darmono/Radar Kanjuruhan).
PRODUKSI MENURUN: Seorang pegawai menggoreng kerupuk di home industry Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Kepanjen kemarin (16/4) (Darmono/Radar Kanjuruhan).

KEPANJEN – Produksi home industri kerupuk di Ardirejo, Kecamatan Kepanjen merosot.

Itu dirasakan oleh Suciarni, salah satu pemilik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) penggorengan kerupuk.

”Biasanya kami memproduksi 1,5 ton per hari. Belakangan ini menurun jadi 1 ton per hari. Mungkin efek habis Lebaran,” ujar Suciarni di sela mengawasi pegawainya menggoreng kerupuk kemarin (16/4).

Baca Juga: Pesanan Kerupuk Singkong Melonjak Dua Kali Lipat

Kerupuk yang diproduksi ada tiga jenis, yakni kerupuk kasandra yang berwarna putih, kerupuk mawar, dan kerupuk puli yang berwarna kuning.

Kerupuk tersebut dijual dalam bentuk krecek atau mentah maupun yang sudah digoreng.

Kerupuk dijual hingga Jember, Lumajang, dan Bali.

Dia menyebut, sejak berdiri 2007 silam, industri rumahan tersebut hanya terkendala harga bahan baku yang fluktuatif.

Baca Juga: Mamin UMKM di MOG Malang Laku Rp 25 Juta per Hari

“Kalau harga tepung saat ini masih stabil. Tapi untuk harga minyak goreng itu terus naik. Kalau harga minyak naik, permintaan kerupuk juga ikut menurun,” kata perempuan berusia 55 tahun itu.

Pembuatannya cukup sederhana.

Yakni tepung yang diberi bumbu yang dicampur terlebih dahulu bersama air panas.

Setelah itu diberi pewarna makanan dan diaduk.

Setelah adonan merata, lalu dikukus.

Selanjutnya, adonan dianginanginkan kemudian diiris tipis-tipis sebelum dijemur.

“Meskipun butuh menjemur, hujan ya tidak terlalu berpengaruh. Karena kami punya mesin pengering,” kata dia.

Sepengetahuan dia, harga minyak goreng sudah mencapai Rp 18 ribu per kilogram.

Bahkan ada yang sampai Rp 20 ribu per kilogram.

Oleh karena itu, dia berharap supaya pemerintah juga turut menjaga kestabilan harga minyak goreng.

Baca Juga: Dorong UMKM Go Global, BRI Bawa UMKM Binaan Ikuti Pameran Internasional FHA-Food & Beverage 2025 di Singapura

Dia berharap harga minyak goreng bisa turun hingga Rp 16 ribu per kilogram.

Jika ada kenaikan harga, dia akan menyesuaikan biaya produksi.

Misalnya mengurangi ukuran kerupuk.

Untuk kerupuk yang berbentuk persegi, jika biasanya berukuran panjang 5 sentimeter, akan dikurangi menjadi 4-4,5 sentimeter.

Sebab dia tidak bisa menaikkan harga. (yun/dan)

Editor : A. Nugroho
#industri rumahan #UMKM #Ekonomi Kreatif (Ekraf) #kerupuk #pangan lokal #harga minyak naik