KEPANJEN – Meski sebagian wilayah tak lagi hujan, namun Bumi Kanjuruhan masih diguyur hujan hingga Jumat (2/5).
Ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang tersapu angin kencang masih mengancam.
Oleh karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mengusulkan perpanjangan status siaga bencana.
”Kami sudah mengusulkan perpanjangan masa siaga bencana yang habis pada 30 April lalu. Usulan kami layangkan beberapa hari sebelum 30 April,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan kemarin.
Dalam surat pengajuan tersebut, Sadono mengungkapkan dua hal yang menjadi pertimbangan utama. Pertama, cuaca yang masih memiliki potensi hujan deras disertai angin kencang.
Hal itu sesuai prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang.
“Prediksi BMKG hujan seperti itu masih bisa terjadi sampai bulan Juli mendatang,” imbuh dia.
Bencana hidrometeorologi terbaru terjadi pada 1 Mei lalu.
Yakni angin kencang di Dusun Kreweh, Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari.
Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur kawasan tersebut pada pukul 15.15.
Akibatnya, tiga rumah mengalami kerusakan.
Tidak ada korban dalam kejadian tersebut, tapi kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 12,5 juta.
Pertimbangan kedua adalah infrastruktur yang rusak.
Poin ini adalah hasil koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang.
“Mulai Desember 2024 lalu sampai hari ini (kemarin, 2/5) belum sempat tertangani, mulai dari yang rusak ringan, rusak sedang, hingga rusak berat,” kata Sadono.
Dia berharap agar dana bantuan dari Pemprov Jatim untuk perbaikan sarana seperti jembatan, jalan dan plengsengan tebing bisa turun.
Sadono menyebut, Pemprov Jatim akan mengucurkan dana apabila satu wilayah berada dalam siaga tanggap darurat bencana. (biy/dan)
Editor : Aditya Novrian