Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

BPBD Monitoring Desa Rawan Kekeringan

A. Nugroho • Minggu, 31 Agustus 2025 | 17:17 WIB

SIAGA: Petugas BPBD Kabupaten Malang menyiapkan tandon untuk dikirim ke desa-desa yang rawan kekeringan.
SIAGA: Petugas BPBD Kabupaten Malang menyiapkan tandon untuk dikirim ke desa-desa yang rawan kekeringan.

KEPANJEN – Tanda-tanda kekeringan mulai merambah Bumi Kanjuruhan. Indikasinya terlihat dari kekurangan air bersih, setidaknya di satu desa. Oleh karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mewaspadai ancaman kekeringan.

 

Pada 25 Agustus lalu, BPBD melakukan monitoring terhadap desa-desa yang rawan kekeringan. Ada tujuh desa yang menjadi sasaran monitoring. Di antaranya Desa Sukowilangun di Kecamatan Kalipare, Desa Karangkates di Sumberpucung, Desa Segaran dan Tumpakrejo di Kecamatan Gedangan, Desa Bandungrejo di Kecamatan Bantur, Desa Sumberejo di Kecamatan Pagak, Desa Sumberoto di Kecamatan Donomulyo, Desa Ringinsari dan Harjokuncaran di Sumbermanjing Wetan.

 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan, desa-desa tersebut tersebar di 7 kecamatan. Hasilnya, ada satu desa yang rawan kekeringan. Yakni Desa Ringinsari, Kecamatan Sumawe yang sumur warganya mulai mengering. “Ada laporan dari warga berupa sumur mulai mengering di Dusun Sidomukti RT 21,” kata Sadono kemarin.

 

Namun untuk desa lain aman dari kekeringan air. Hal itu karena gencarnya pelaksanaan proyek pipanisasi, sumber air yang masih banyak airnya dan hujan yang masih terus turun.

 

Dia menambahkan, di Ringinsari sebenarnya ada fasilitas penampungan air milik Perumda Tirta Kanjuruhan untuk kepentingan pipanisasi di wilayah tersebut. Namun 

 

belum semua wilayah Ringinsari terjangkau pipa. Seperti di wilayah Dusun Krajan RT 9 dan RT 10.

 

Akan tetapi, belum ada tindakan yang diambil. Lantaran wilayah yang kering sumur dan tidak terjangkau pipanisasi tersebut masih dalam radius 3 kilometer dari sumber mata air yang layak digunakan. “Kalau dalam atau lebih dari radius itu sudah kesulitan air, maka sudah masuk kering kritis, tindakan dropping air bisa dilakukan,” kata Sadono.

 

Di sisi lain, Sadono mengatakan kesulitan air masih bisa teratasi dari langit. Alias masih ada hujan di wilayah tersebut. “Masih ada hujan sporadis atau tidak merata di wilayah selatan. Biasanya kalau hujan 2 hari sumur kembali terisi, di sana juga rata-rata tanah resapan air,” ujarnya.


qKetika kekeringan kritis sudah terjadi, BPBD tinggal mengedrop 50 tandon air dan meluncurkan 9 truk tangki yang sudah disiapkan beberapa hari lalu. (biy/dan)

Editor : A. Nugroho
#gedangan #kekeringan #Kabupaten Malang #BPBD #Sukowilangun