TUMPANG - Pemugaran pertama kali Candi Jago di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang terus berlanjut. Dalam proses pemugaran, batu-batu yang sudah lapuk harus diganti. Hal itu dilakukan demi menjaga struktur candi agar tetap kokoh.
Koordinator Wilayah (Korwil) Malang Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Imam Pinarko menyampaikan, pemugaran tahap pertama hanya menyasar bagian bawah candi. “Batu yang diganti di bagian bawah hanya 2-3 persen. Mayoritas di bagian terluar saja supaya permukaannya rata, sedangkan bagian dalam masih tetap seperti aslinya,” ujar Imam yang merangkap Juru Pelihara Candi Jago kemarin (15/9).
Bagian yang diganti tersebut sudah rusak parah, bahkan beberapa sudah remuk. Sehingga terpaksa diganti. Jika tidak diganti, dikhawatirkan malah merusak candi. Sebab banyak tumpukan batuan yang sudah miring dan berpotensi ambles. “Bagian atasnya itu kemungkinan lebih banyak. Mungkin sekitar 80 persen (harus diganti),” imbuh pria berusia 51 tahun itu.
Batu yang digunakan menyesuaikan jenis batuan yang digunakan menyusun candi pada masa kerajaan. Termasuk ukuran dan jenisnya. Yakni batu andesit dengan corak yang semirip mungkin dengan batu aslinya. Batu tersebut sengaja tidak ditambahkan relief supaya terlihat perbedaan antara yang asli dan batu pengganti. “Amanah dari Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, di bagian atas akan disusun bilik untuk beribadah. Mungkin seperti Candi Badut. Hanya dibuatkan bilik, tetapi atapnya masih belum tahu,” kata dia.
Namun, dia melanjutkan, pemugaran bagian atas diperkirakan dimulai pada tahap ketiga. Tahap kedua masih menuntaskan bagian tengah atau badan candi. Jika tidak ada aral, pemugaran berlangsung 3-4 tahun. Bahkan bisa lebih, tergantung penemuan-penemuan baru saat proses pemugaran.
Dia menyebut, ukuran candi yang sebenarnya belum diketahui. Saat ini, yang di permukaan, candi tersebut memiliki panjang 24 meter dan lebar 14 meter. Sedangkan tinggi candi sekitar 10,5 meter. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho