KEPANJEN – Pengoperasian bus Trans Jatim yang dijadwalkan November depan akan menggerus angkutan pedesaan (angdes) di Bumi Kanjuruhan. Namun jumlah armada terimbas tidak sebanyak daerah lain di luar Kabupaten Malang.
Kepala Bidang Angkutan Dishub Kabupaten Malang Tri Hermantoro memaparkan, sejauh ini trayek angdes yang akan terdampak hanya satu jalur. Trayek itu adalah Karangploso – Landungsari. “Tetapi impitan hanya dari pertigaan Pendem sampai terminal Landungsari atau tidak lebih dari 1 kilometer,” ujar Tri.
Tri membeberkan, di jalur tersebut ada 15 unit yang masih beroperasi. Diperkirakan merekalah yang akan tergerus setelah bus Trans Jatim beroperasi. Oleh karena itu, pihaknya bersama Dishub Jatim dan Dishub Kota Malang dan Kota Batu masih berupaya mencarikan solusi. Sebab, yang terdampak tidak hanya angdes di Bumi Kanjuruhan. Tapi juga transportasi di Kota Batu dan Kota Malang.
Sejauh ini belum ada solusi konkret, namun dalam rapat terakhir setidaknya ada 3 usulan. “Yang pertama, trayek yang berimpitan 100 persen akan dihapus dengan kompensasi seluruh awak angkutan dijadikan kru Trans Jatim,” kata dia.
Kemudian untuk trayek berimpitan kurang dari 50 persen rencananya akan ada peleburan two in one. Sedangkan trayek kurang dari 30 persen akan ada kompensasi. “Tapi itu semua belum di sepakati sampai hari ini,” terang Tri.
Untuk solusi juga masih akan dibicarakan dengan pihak terkait, termasuk keputusannya juga akan diserahkan kepada pihak ketiga atau operator bus Trans Jatim. Tri juga belum mengetahui kapan solusi tersebut akan mencapai final.
Selain itu, Tri menerangkan, untuk pelebaran trayek Trans Jatim ke Kepanjen masih akan menunggu hasil evaluasi. Pihaknya akan mempertimbangkan aspek-aspek lainnya termasuk profit. “Kemungkinan akan dibicarakan tapi tidak tahun ini. Bisa jadi pada tahun 2026,” pungkas Tri. (yad/dan)
Editor : A. Nugroho