KEPANJEN – Taman Puspa Kepanjen butuh perawatan. Beberapa sarana dan prasarana (sarpras) sudah rusak sehingga ditinggalkan oleh pengunjung. Padahal ketika awal beroperasi pada 2013 lalu, setidaknya dikunjungi 50 orang per hari.
”Sekarang semakin sepi. Mungkin sudah tidak ada yang mengunjungi taman. Biasanya orang-orang kalau berhenti ya cuma mampir di warung-warung pinggir jalan,” ujar warga setempat Sutiana kemarin.
Dia juga menyebut, taman tersebut seperti tidak terawat meskipun dibersihkan setiap hari. Malam hari gelap karena tidak ada lampu penerangan.
Berdasar pengamatan Jawa Pos Radar Kanjuruhan, papan nama di taman tersebut sudah rusak. Huruf-hurufnya sudah ada yang hilang, sehingga mengurangi estetika. Tanaman yang ditanam di pot-pot berjajar di dinding pun sebagian hilang. Hanya tersisa pot dan tanah di dalamnya saja. Di dalam taman tersebut juga terdapat gazebo kecil untuk beristirahat. Namun atap di gazebo sudah rusak.
Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang Johan Dwijo Saputro mengatakan, pihaknya tetap rutin melakukan pemeliharaan, seperti pembersihan. Namun penambahan fasilitas penunjang masih belum dilakukan. “Taman Puspa tetap kami rawat, karena ada di tepi jalan (jalibar). Namun di sana sering terjadi pencurian. Misalnya kami pasang lampu, tidak lama, lampunya hilang,” kata Johan yang merangkap Sekretaris DPKPCK tersebut.
Sehingga selain peran Pemkab, dia menilai peran masyarakat dalam menjaga taman juga sangat diperlukan. Apalagi Pemkab Malang tidak mungkin berjaga di lokasi taman selama 24 jam.
Untuk diketahui, anggaran perawatan taman tahun ini sangat terbatas akibat efisiensi. Pada 2024 lalu ada Rp 2 miliar untuk perawatan taman, tahun ini hanya Rp 1,7 miliar. Itu untuk seluruh taman, termasuk jalur hijau di Kabupaten Malang. “Tahun depan, kami akan mengusulkan perbaikan untuk taman tersebut supaya bisa dimanfaatkan lagi oleh masyarakat,” pungkasnya. (yun/dan).
Editor : A. Nugroho