KEPANJEN - Jumlah petani milenial di Bumi Kanjuruhan yang mendapat intervensi bertambah. Pada 2024 lalu, Pemkab mengintervensi 8.000 petani, termasuk yang bergerak di bidang peternak. Tahun ini bertambah menjadi 13.393 jiwa.
Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang mengungkap, jumlah petani milenial mencapai 62.623 jiwa. Mayoritas berusia 19-39 tahun.
Belasan ribu petani tersebut terbagi menjadi delapan subsektor. Yakni hortikultura sebanyak 3.227 petani, tanaman pangan ada 2.301 petani, perkebunan 2.898 petani, unggas 720 petani, ruminansia kecil 1.318 orang, ruminansia besar 600 orang, aneka ternak 127 orang, dan lainnya 2.202 orang.
“Mereka mendapat intervensi melalui program YeSS (Youth Entrepreneur and Employment Support Service). Dari program tersebut, sudah terbentuk kelembagaan seperti Koperasi Agrimuda Jaya Bersama dengan omzet mencapai Rp 980 juta hingga Mei 2025,” ucap Kepala DTPHP Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera beberapa waktu lalu.
Dia menjelaskan, program YeSS hasil kerja sama Kementerian Pertanian (Kementan) RI dengan International Fund For Agricultural Development (IFAD).
Tujuannya meningkatkan keterampilan kerja pemuda di bidang pertanian, membentuk wirausaha muda pertanian, serta memperluas akses pemuda ke layanan keuangan serta membentuk ekosistem.
Bentuk kegiatannya berupa pelatihan, baik pelatihan keuangan maupun teknis, magang di bidang pertanian dalam dan luar negeri, serta hibah kompetitif.
“Kami juga turut andil dalam pengembangan petani milenial melalui program kerja prioritas daerah, khususnya program pengembangan industri pertanian dan petani milenial untuk ketahanan pangan,” beber pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Hal itu merupakan hasil kesepakatan dalam forum pemangku kepentingan seperti integrasi program ke dalam perencanaan pembangunan daerah, dukungan pembiayaan dari APBD, serta penguatan jejaring kemitraan antar lembaga dan pelaku usaha.
“Kami mendorong wisata pertanian milenial dengan cara mengemas pertanian sebagai pengalaman wisata edukatif, didukung kemitraan multi-pihak, koperasi pemuda, promosi digital, dan peran BUMDes agar berkelanjutan,” pungkasnya.(yun/dan)
Editor : A. Nugroho