KABUPATEN- Petani Pepaya di Desa Kalipare mulai meninggalkan cara konvensional saat melakukan aktivitas bertani. Mereka bisa mengontrol irigasi otomatis, memonitor kelembapan tanah, dan suhu udara lahan secara real time melalui ponsel.
Transformasi itu buah dari inisiatif tim akademisi Politeknik Negeri Malang (Polinema) melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) BOPTN Batch 3 Tahun 2025. Itu merupakan, program pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikti-Saintek) untuk kegiatan pengabdian masyarakat.
Memadukan Internet of Things (IoT) dan digitalisasi pemasaran, program ini bertujuan mendorong lahirnya pertanian cerdas di Kalipare. Sebelum adanya program itu, mayoritas petani di Kalipare masih bertumpu pada intuisi. Penyiraman dilakukan berdasar perasaan, pencatatan hasil panen masih manual, dan jalur pemasaran didominasi tengkulak.
Konsekuensinya, saat panen raya, harga pepaya anjlok hingga separo. Sementara saat permintaan tinggi, stok tak mampu memenuhi pasar. Keadaan itu mulai berubah berkat pendekatan Participatory Action Research (PAR).
Usman Nurhasan dan tim tidak datang membawa solusi instan, melainkan berkolaborasi erat dengan petani untuk merumuskan solusi yang praktis. Kolaborasi ini melahirkan SI-Kates (Smart-IoT for Papaya Farming).
”Sekarang, kami tidak lagi menebak-nebak kapan harus menyiram. Semuanya sudah terbaca di aplikasi,” ujar pemilik lahan percontohan Cahya Faiz Arsa Pratama. Inovasi tidak berhenti di kebun, Tim Polinema juga memperkenalkan FaizFarm.
Sebuah aplikasi pencatatan keuangan dan produksi. ”Program ini tidak hanya modernisasi kebun, tetapi juga menumbuhkan semangat baru di kalangan petani muda,” kata Usman Nurhasan. (gp)
Editor : A. Nugroho