KEPANJEN - Penambahan kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) mendapat perhatian khusus dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang. Sebab, selama Januari sampai November 2025, sudah ditemukan 421 kasus baru. Kini, mereka menggencarkan upaya pencegahan lewat promosi kesehatan (promkes).
Bentuknya berupa edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan penularan dengan penerapan perilaku aman. Yakni dengan metode ABCDE (Abstinence, Be Faithful, Condom, Drug No, Education). Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah memaparkan, abstinence yakni perilaku tidak melakukan hubungan seks di luar nikah bagi yang belum menikah.
Kemudian be faithful yakni bersikap setia kepada satu pasangan seks dan menggunakan kondom yang baru setiap berhubungan seks. ”Tidak kalah penting, yaitu menghindari penggunaan narkoba, terutama melalui jarum suntik,” kata dia. Selanjutnya yakni aktif menerima edukasi sehingga mendapatkan informasi yang benar mengenai HIV.
Mulai dari cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya. Pelibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam memberikan edukasi pencegahan HIV juga diperlukan. ”Pemanfaatan media cetak maupun elektronik, hingga media sosial dalam menyampaikan pesan juga menjadi kunci edukasi dan pencegahan penularan,” imbuhnya.
Pihaknya juga mengingatkan masyarakat bahwa perjuangan melawan HIV menjadi tanggung jawab bersama. Sehingga diharapkan masyarakat dapat bersama-sama menghadapi perubahan dengan slogan ‘Jaga Keberlanjutan Layanan Kesehatan dan Stop Stigma’. ”Artinya, kita tidak mendiskriminasi penderita HIV, menjauhi penyakitnya bukan menjauhi orangnya,” kata dia.
Jika merasa berisiko tertular HIV, harus melakukan tes secara sukarela. Penderita HIV harus berobat rutin agar bisa hidup seperti orang sehat. Sebab, dia menyebut, paparan virus HIV tidak dapat disembuhkan, namun hanya bisa ditekan supaya tidak terus berkembang. Yakni dengan terapi antiretroviral (ARV) seumur hidup. (yun/by)
Editor : A. Nugroho