GONDANGLEGI - Pembangunan jalan Gondanglegi-Bantur-Balekambang belum tunjukkan progres yang signifikan. Sampai awal Desember, dua lot jalan utama ke wilayah Malang selatan itu belum menyentuh angka 60 persen.
Dua lot tersebut yakni lot 16 A dari Gondanglegi sampai Wonokerto, Kecamatan Bantur. Serta, lot 16 B Wonokerto-Balekambang (Desa Srigonco, Kecamatan Bantur).
“Per laporan tanggal 5 Desember lalu, Lot 16 A (progresnya) 47,82 persen dan Lot 16 B 54,15 persen,” kata Humas Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (B2PJN) Jawa Timur-Bali Achsan Asjhari.
Hal-hal yang masih dikerjakan seperti pembuatan saluran U-ditch, pemasangan batu, galian pelebaran drainase dan jalan, sampai aspal AC-BC untuk pelebaran. Tim penggarap proyek belum menyentuh pekerjaan pemasangan lampu jalan dan markah jalan.
Achsan menyebut bahwa pihaknya masih berhadapan dengan pekerjaan berkaitan jembatan. Total ada empat jembatan yang akan diganti.
“Di Lot 16 A ada satu penggantian jembatan dan 2 pemeliharaan jembatan. Sementara itu di Lot 16 B ada tiga penggantian jembatan dan satu pemeliharaan jembatan,” sebut dia.
Diketahui, pekerjaan tersebut dilakukan dengan tidak berurutan. Itu terlihat dalam pengamatan wartawan koran ini kemarin siang (12/12). Tepatnya di sepanjang jalan Lot 16 A dari depan Terminal Gondanglegi sampai dengan Pasar Wonokerto, Kecamatan Bantur.
Pengaspalan tampak dilakukan secara parsial, sehingga dari Gondanglegi sampai Desa Suwaru, Kecamatan Pagelaran masih banyak aspal jalan yang beda tinggi dalam satu lajur. Di jalan mengarah ke selatan, terdapat setidaknya lima titik aspal beda tingginya.
Belum lagi, garapan parit atau U-ditch di kanan kiri sepanjang jalan. Ada yang sudah terpasang beton dasar selokannya. Ada pula yang masih berupa tanah galian. Terlihat di sebelah utara Polsek Pagelaran. Sebuah ekskavator dengan sekop tanahnya masih basah. Di tikungan Dusun Krajan, Desa Suwaru, tampak pekerja mulai membuat trotoar.
Belum lagi satu duiker (jembatan plat beton penutup drainase menyilang di jalan) belum rampung pemasangannya. Itu terlihat di Dusun Krajan, Desa Suwaru. Menyebabkan kendaraan di dua lajur harus bergantian untuk melewatinya.
B2PJN Jatim-Bali juga tengah dibenturkan dengan pembebasan tanah di Lot 16 A. Itu menjadi salah satu penyebab pekerjaan kurang optimal. “Lahan belum bebas sekitar 214 bidang atau 23,21 persen. Artinya, yang sudah bebas 76,79 persen,” sebut Achsan.
Pembebasan lahan tersebut, sekarang masih di tahap penetapan lokasi (Penlok) bersama Pemkab Malang. “Saat ini dalam proses penerbitan SK penlok oleh Bupati Malang,” ujar dia. Pihaknya tetap optimistis bahwa rehabilitasi jalan sepanjang 30,485 kilometer yang dimulai sejak Oktober 2024 lalu selesai tepat waktu. Tepatnya pada Mei 2026 mendatang. (biy/by)
Editor : A. Nugroho