KEPANJEN - Per bulan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang mencatat ada 20 sampai 30 gempa bumi yang terjadi di Bumi Kanjuruhan. Jika ditotal berdasar hasil rekapitulasi BPBD Kabupaten Malang, telah terjadi 179 gempa bumi selama 11 bulan pada 2025.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD Kabupaten Malang Zainuddin menyampaikan, sebagian besar gempa tersebut memiliki magnitudo atau kekuatan kecil hingga menengah. Yakni di bawah 5 Skala Richter (SR).
”Gempa tersebut bersumber dari aktivitas tektonik di selatan Pulau Jawa dan sebagian besar tidak menimbulkan dampak kerusakan signifikan,” ujar Zainuddin.
Namun, pihaknya tetap melakukan berbagai upaya antisipasi. Salah satunya dengan pemantauan intensif bersama BMKG. Pihaknya terus berkoordinasi untuk memantau aktivitas kegempaan secara real-time. Selain itu juga menyampaikan informasi resminya kepada masyarakat.
Informasi tersebut rutin disampaikan di media sosial BPBD Kabupaten Malang maupun BMKG, grup komunikasi kewilayahan, serta koordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan.
”Kami juga selalu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat,” ujar pejabat eselon III B Pemkab Malang itu. Di antaranya melalui sosialisasi dan edukasi kebencanaan di wilayah rawan gempa bumi. Kemudian melakukan simulasi gempa bumi dan tsunami.
Selain itu juga melakukan penguatan desa tangguh bencana (destana) dan relawan kebencanaan. ”Edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi strategi utama yang paling efektif dan efisien dalam menekan risiko korban akibat gempa,” imbuhnya.
Sebab, gempa bumi tidak dapat dicegah, namun dapat dilakukan mitigasi bencana. Pihaknya juga mengimbau masyarakat selalu waspada dan mengenali jalur evakuasi di lingkungan masing-masing. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Stasiun III Malang Mamuri menjelaskan, gempa bumi tersebut tercatat melalui sensor.
BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang memiliki sekitar 20-an sensor. Di Kabupaten Malang terdapat tiga sensor. Yakni Malang Jawa Indonesia (MLJI), Gedangan Jawa Indonesia (GEJI), dan Poncokusumo Jawa Indonesia (POKJI). Kemudian yang terdekat yakni di Klakah Lumajang Jawa Indonesia (KLJI).
”Getaran tanah bisa dikatakan gempa ketika enam sensor yang saling berdekatan tersebut sama-sama mendeteksi gempa. Kalau hanya satu, bisa saja hanya ada truk lewat atau sejenisnya,” papar dia. Sebagai informasi, di bagian selatan Pulau Jawa terdapat lempeng Indo-Australia yang menyusut ke bawah lempeng Eurasia.
Lempeng Eurasia tersebut berada di atas langsung Pulau Jawa. Sehingga, dua lempeng itu dapat melakukan aktivitas subduksi. Yakni proses geologi wilayah kerak bumi yang memiliki dua lempeng tektonik. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab gempa bumi. (yun/by)
Editor : A. Nugroho