KABUPATEN - Harga sejumlah bahan pokok penting (bapokting) diprediksi naik 8 sampai 9 persen pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Peningkatan itu dilandasi meningkatnya konsumsi rumah tangga, mobilitas masyarakat, hingga perubahan pola bekerja. Pemkab Malang mulai menyusun strategi pencegahan kenaikan harga yang signifikan.
Mereka sudah memetakan beberapa komoditas yang menjadi kebutuhan terbanyak warga. Hasilnya, beras, minyak, dan gula jadi yang paling teratas. Agar harganya tak naik signifikan, pemkab menyiapkan buffer stock (stok penyangga) tambahan 8 sampai 10 persen.
”Untuk komoditas mudah rusak seperti cabai dan bawang juga perlu penanganan khusus,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi. Mereka juga menyediakan cold storage agar kualitas tetap terjaga serta rutin melakukan intervensi ke pasar-pasar.
Komoditas hewani seperti daging ayam, sapi, dan telur juga sensitif terhadap fluktuasi harga. Terutama karena kenaikan harga pakan dan gangguan distribusi karena cuaca serta kapasitas pemotongan dan pengolahan. Khusus itu, Mahila bakal berkoordinasi intens dengan peternak, distributor, hingga rumah potong.
”Kami juga akan top up cadangan pangan pemerintah hingga 10 persen untuk komoditas strategis,” lanjut dia. Setiap pekan, pihaknya juga aktif monitoring harga di pasar-pasar. Apabila terjadi gangguan distribusi karena cuaca, skema redistribusi antar-daerah bakal diberlakukan.
Secara umum, ketersediaan bahan pangan di Kabupaten Malang untuk Nataru dipastikan aman. Itu berdasar hasil analisis proyeksi kebutuhan dan ketersediaan pangan. Paling tidak stok yang ada bisa bertahan sampai 1,4 bulan kedepan.
”Seperti contoh komoditas cabai, per tahun kebutuhannya hanya 10,7 ton saja,” lanjut dia. Sementara produksi petani dari Kabupaten Malang mencapai 72,3 ton. Jadi, surplus itu didistribusikan untuk ekspor di wilayah sekitar Kabupaten Malang seperti Kota Malang dan Kota Batu. (aff/by)
Editor : A. Nugroho