KEPANJEN – Pembangunan gedung Sekolah Rakyat permanen di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur mulai dikebut. Selain pemerataan lahan atau cut and fill, juga ada pengerjaan lainnya. Khususnya untuk lahan yang siap bangun. Di lokasi itu, sudah mulai dibangun fondasi dan kerangka bangunan.
Seperti diberitakan, sekolah tersebut akan dibangun di lahan milik Pemkab Malang. Luasnya 5,9 hektare. Lahan tersebut terletak di dekat Jembatan Pelangi yang saat ini sedang dilaksanakan pembangunan jalan nasional. Yakni Jalan Gondanglegi-Balekambang (selengkapnya baca grafis).
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Malang Pantjaningsih Sri Redjeki menyampaikan, pembangunan tersebut akan berlangsung kurang lebih tujuh bulan. Jika tidak ada halangan, pembangunannya ditarget tuntas pada Juli 2026.
Sehingga tahun ajaran 2026/2027, SR tersebut dapat dimanfaatkan. ”Setelah selesai, nanti siswa-siswi di Sekolah Rakyat rintisan akan disatukan. Mereka akan pindah ke Srigonco,” ucapnya.
Nanti, di Sekolah Rakyat Srigonco akan dibangun gedung yang difungsikan sebagai sarana pembelajaran dan asrama. Mulai dari tingkat SD sampai SMA. Selain gedung kelas, juga akan dibangun tempat ibadah, perpustakaan, dan fasilitas lainnya.
Anggaran pembangunannya Rp 200 miliar. Dengan rincian, Rp 100 miliar dari APBN dan Rp 100 miliar dari dana Corporate Social Responsibility (CSR). Sementara itu, pembelajaran di Sekolah Rakyat rintisan yang terletak di Balai Latihan Kerja (BLK) Singosari atau SR Terintegrasi (SRT) 47 Malang terus berjalan dengan lancar.
Namun, terdapat penurunan jumlah siswa dari yang sebelumnya ada 100 anak. Yakni 25 anak SD dan 75 anak SMA. ”Saat ini jumlah siswanya ada 86 anak dengan rincian 25 anak SD dan 64 anak SMA. Itu terjadi karena ada siswa yang pindah domisili,” ujar Kepala SRT 47 Malang Warsito.
Kurikulum yang diterapkan di sana yakni tailor made dan telah disesuaikan dengan karakteristik siswa-siswinya. Kurikulum tersebut merupakan kurikulum nasional yang dijahit. Oleh karena itu, dinamakan tailor made.
”Kalau sekolah reguler kan akademiknya benar-benar dikejar. Kalau di Sekolah Rakyat itu kami ada talent DNA, yakni metode untuk memetakan bakat dan minat siswa,” kata Warsito.
Artinya, kurikulumnya tidak bersifat seragam untuk semua siswa. Namun disesuaikan agar pembelajaran lebih personal dan efektif. Untuk menunjang pembelajaran, pihaknya juga sudah menerima bantuan laptop dari pemerintah pusat. Laptop tersebut dimanfaatkan oleh siswa selama pembelajaran.
Menurutnya, setiap siswa memiliki bakat yang berbeda. Tugas Sekolah Rakyat yakni mendorong dan mengembangkan bakat tersebut supaya dapat bermanfaat. Baik untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi maupun langsung memasuki dunia kerja.
Dia juga menyebut, pihaknya bakal siap jika harus pindah ke Sekolah Rakyat permanen di Desa Srigonco. Pembelajaran pun akan disesuaikan. Sebab, kurikulum tailor made juga tidak memiliki timeline ketat seperti kurikulum di sekolah reguler. ”Intinya, kami siap mengikuti kebijakan dari Kemensos RI dan pemerintah daerah,” pungkasnya. (yun/by)
Editor : A. Nugroho