Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pemasaran Garam Tunnel di Malang Selatan Butuh Bantuan Menteri Pertanian

Mahmudan • Selasa, 6 Januari 2026 | 11:08 WIB
PANEN: Seorang petani memanen garam tunnel di Desa Gajahrejo, Gedangan beberapa waktu lalu. Selain di Gedangan, juga terdapat garam tunnel di Modangan, Kecamatan Donomulyo.
PANEN: Seorang petani memanen garam tunnel di Desa Gajahrejo, Gedangan beberapa waktu lalu. Selain di Gedangan, juga terdapat garam tunnel di Modangan, Kecamatan Donomulyo.

DONOMULYO – Pengembangan garam tunnel di Malang selatan terus diupayakan pemerintah. Selain butuh keseriusan Pemkab Malang, juga memerlukan bantuan kementerian pertanian (Kementan) RI.

Oleh karena itu, Tenaga Ahli Menteri Pertanian (Mentan) RI Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng meninjau garam tunnel di Pantai Modangan, Kecamatan Donomulyo, Minggu lalu (4/1).

Sekda Kabupaten Malang Budiar Anwar menyampaikan, kunjungan tersebut dalam rangka menghimpun informasi secara komprehensif terkait produk garam. Mulai proses produksi hingga kualitas hasil.

Serta kondisi dan peran petani garam di daerah. Hasil peninjauan tersebut menjadi bahan masukan dalam perumusan kebijakan dan pengembangan sektor pergaraman ke depan.

“Rencananya, beliau akan melaporkan hasil peninjauan garam tunnel ke Mentan RI, sekaligus mengajak ID FOOD selaku holding BUMN pangan untuk berperan dalam memasarkan produk hasil laut, khususnya garam,” ujar Budiar.

Sebab, dia melanjutkan, pemasaran menjadi salah satu tantangan petani garam. Sehingga membutuhkan peran pemerintah pusat untuk membantu pemasarannya. Sebagai informasi, garam tunnel adalah sarana berbentuk seperti greenhouse untuk mengeringkan atau mengkristalkan garam.

Namun, plastik yang menutup garam tunnel lebih tebal, yakni berukuran 5 mikron. Tunnel tersebut juga kedap air. Sehingga meskipun hujan, masih dapat berfungsi dengan baik. Produksi garam menggunakan tunnel tersebut bisa dibilang menguntungkan dan sesuai untuk daerah di pesisir Kabupaten Malang.

Berbeda dengan tambak yang membutuhkan lahan luas, produksi menggunakan tunnel dapat dilakukan di lahan terbatas. Hanya dengan lahan sekitar 4x21 meter, sudah dapat memproduksi minimal 600 kilogram garam per siklus atau 14 hari.

Di samping itu, kualitas garamnya juga bagus. Meskipun di Malang selatan banyak gunung kapur, kadar kalsium (Ca) maupun Magnesium (Mg) nihil. “Tingkat NaCl (Natrium Klorida) mencapai 97,08 persen.

Itu setara garam industri. Tingkat putihnya juga mencapai 72,8 persen. Kalau diuji di laboratorium, masuk kategori K1,” kata Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring.

Namun, dia melanjutkan, harga garam tunnel tersebut masih sangat rendah. Yakni Rp 2.500 per kilogram. Sebab, pasar garam tersebut masih masyarakat lokal yang memanfaatkan garamnya untuk pengawetan ikan, pemindangan, hingga pembuatan ikan asin. (yun/dan)

Editor : Aditya Novrian
#Mentan #Kementan #Kabupaten Malang #natrium klorida