KEPANJEN – Selama 2025, Pemkab Malang menggelontor Rp 22,9 miliar untuk 39 proyek pembangunan jalan dan jembatan. Semua rampung dan diklaim tidak ada evaluasi. Itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang Khairul Isnaidi Kusuma.
Dia merinci beberapa jenis proyek tersebut. Dari 39 proyek, 29 di antaranya berupa penggantian jembatan dan delapan duiker (jembatan pelat beton). Sementara untuk jalan ada 2 proyek, yaitu peningkatan jalan Selorejo-Krisik di Kecamatan Ngantang dan Pagak - Sumbermanjing Kulon di Kecamatan Pagak.
Yang terdata dinyatakan selesai sampai Oktober lalu ada delapan jembatan dan lima duiker. Untuk jembatan, ada penggantian di Desa Banjarejo dan Purworejo (Kecamatan Donomulyo), Pagersari (Kecamatan Ngantang), Wonorejo (Kecamatan Singosari), serta Dalisodo (Kecamatan Wagir).
Kemudian rehabilitasi jembatan di sekitar Pasar Sapi dan Kekep Kulon di Donomulyo, serta Sutojayandi Kecamatan Pakisaji.
Sementara yang paling terakhir rampung pengerjaannya adalah Jembatan Rejoyoso di Bantur. Dibangun dengan anggaran Rp 3,5 miliar. ”JembatanRejoyosorampung pada 29 Desember 2025 lalu, kemudian langsung dibuka untuk umum,” ucap pria yang akrab disapa O’ong itu.
Anggaran yang digelontorkan untuk semua jembatan sekitar Rp 29,6 miliar. “Rp 22 miliar untuk jembatan dan duiker, sisanya untuk perbaikan dua jalan tersebut,” kata pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Untuk Jalan Selorejo-Krisik, dia mengatakan, total anggaran yang dihabiskan untuk proyek tersebut adalah Rp 4.819.045.427,48. Untuk Pagak Rp 2.820.172.823,59. Oong menegaskan, 39 proyek infrastruktur tersebut selesai tepat waktu. Tidak ada evaluasi kepada para penggarap.
Namun kendala pada saat pekerjaan selama setahun itu tetap ditemui. “Seringnya yang ditemui cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi. Untuk jembatan ini menyebabkan genangan, luapan sungai, serta hambatan pada pekerjaan struktur bawah jembatan,” kata dia.
Kendala-kendala lain yang didapati adalah keterlambatan logistik, mobilitas material dan alat berat karena jalan rusak, serta kendala sosial dan teknis di lapangan. Beberapa upaya dilakukan untuk mengakali hal tersebut.
Misalnya penjadwalan kerja fleksibel dengan menyesuaikan kondisi cuaca. Lalu pembangunan jalan kerja sementara dan penyediaan stockpile material, serta peningkatan pengawasan lapangan. (biy/dan)
Editor : Aditya Novrian