Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dinilai Kurang Efektif, PJT I Tetap Bersikukuh Terapkan E-Money di Gate Bendungan Lahor

Aditya Novrian • Minggu, 1 Maret 2026 | 13:00 WIB

SEJAK 5 JANUARI: Pembayaran di gate Bendungan Lahor di Desa Karangkates, Sumberpucung harus menggunakan kartu e-money. (BIYAN MUDZAKY HANINDITO / RADAR KANJURUHAN)
SEJAK 5 JANUARI: Pembayaran di gate Bendungan Lahor di Desa Karangkates, Sumberpucung harus menggunakan kartu e-money. (BIYAN MUDZAKY HANINDITO / RADAR KANJURUHAN)
 

SUMBERPUCUNG - Mekanisme lewat gate Bendungan Lahor di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung memakai kartu uang elektronik masih menuai perdebatan.

Tidak hanya bagi warga sekitar bendungan, namun juga warga umum yang mempertanyakan efektivitas sistem tersebut. Mengingat tidak semua warga memiliki kartu e-money.

Menanggapi itu, Perum Jasa Tirta (PJT) I selaku pengelola bendungan bersikukuh sistem yang diterapkan sejak awal 2026 itu yang paling tepat.

Penerapan pembayaran elektronik via jalan di atas bendungan tersebut pertama kali diterapkan pada 5 Januari 2026 lalu. Setiap kendaraan diwajibkan men-tap kartu e-money sesuai dengan jalurnya.

”Itu langkah kami dalam menutup celah kebocoran pendapatan. Semua harus digital dan kartu itu juga bisa dipakai di mana saja,” kata Kepala Subdivisi Pengusahaan PJT I Bayu Sakti.

 

 

Kebijakan itu menimbulkan pro-kontra. Pertama dan tentunya oleh warga sekitar yang berkeberatan pengenaan tarif seribu rupiah untuk motor dan tiga ribu rupiah untuk kendaraan roda empat.

Tapi akhirnya kebijakan tersebut diberi kelonggaran dengan memberi gratis bagi warga yang tinggal dalam radius dua kilometer dari bendungan per tanggal 16 Februari lalu.

Bagi masyarakat umum, di berbagai media sosial (medsos) banyak yang mengeluhkan penerapan kebijakan tersebut.

Lantaran tidak semua orang punya kartu uang elektronik. Sebagian lagi juga mengeluhkan kenapa tidak bisa memakai sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

 

Baca Juga: Pivot dan Kiper Unggul FC Malang Berpeluang Bela Timnas di ASEAN Futsal Championship 2026

 

Menanggapi hal tersebut, Bayu mengatakan bahwa pembayaran pakai kartu lebih efisien.

”Kartu itu tinggal tempel langsung selesai. Kalau pakai QRIS selain harus pengadaan lagi alat pemindainya, belum lagi kendala sinyal dan sekali transaksi itu memakan waktu beberapa detik,” sebut dia.

Bayu menambahkan, hal tersebut terbukti di lapangan. Rata-rata, pelintas bendungan dengan usia muda sudah memiliki kartu uang elektronik.

”Hanya satu dua saja yang mundur untuk beli kartu,” imbuhnya. Selama ini, yang menjadi masalah adalah pengendara dengan usia tua. Mereka kerap ngotot menyerahkan uang tunai kepada petugas walau wajib menggunakan e-money.

Dalam beberapa kesempatan, ada juga pengendara yang terkendala minimnya saldo e-money. Mereka umumnya disuruh mundur juga. (biy/by) 

 

Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi

Editor : Aditya Novrian
#emoney #GAte #bendungan lahor