KEPANJEN – Melonjaknya harga cabai rawit berdampak terhadap inflasi. Mendominasi dibanding komoditas lain. Hal itu terungkap dalam analisis Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Malang. Oleh karena itu TPDI melakukan upaya pengendalian.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Budiar Anwar memaparkan kondisi ketahanan pangan daerah berdasar data badan pusat statistik (BPS). Dia mengatakan, ketahanan pangan Kabupaten Malang berada di level aman dan surplus. Seperti ketersediaan cabai rawit 18.883 ton dengan surplus 16.394 ton, daging ayam 10.542 ton surplus 335 ton, serta telur ayam 12.184 ton surplus 3.467 ton.
Secara kuantitatif, dia melanjutkan, kapasitas pasokan cukup untuk menopang lonjakan permintaan hingga Hari Raya Idul Fitri. Namun kewaspadaan tetap diperlukan pada komoditas hortikultura yang sensitif terhadap cuaca serta protein hewani dengan ketahanan stok relatif tipis.
Dia mengatakan, harga terus bergerak fluktuatif. Salah satunya karena peningkatan permintaan dan faktor curah hujan tinggi yang mengganggu produksi hortikultura. Cabai rawit menjadi kontributor dominan fluktuasi harga sepanjang 2025 hingga awal 2026, diikuti daging ayam ras dan bawang merah.
“Pola intervensi terus kami laksanakan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Pasar Lebaran Maret 2026,” imbuh Budiar. Ke depan, dia menambahkan, langkah tersebut akan didukung optimalisasi sistem pemantauan harga di 21 pasar.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Cabang Malang Dedy Prasetyo melaporkan inflasi Februari lalu 0,75 persen (month-to-month) atau 4,81 persen (year-on-year). Komoditas utama penyumbang inflasi adalah cabai rawit, emas perhiasan, dan daging ayam ras. Sedangkan bensin dan beberapa sayuran mengalami deflasi.
“Curah hujan menengah hingga tinggi pada Maret berpotensi menekan produksi hortikultura dan meningkatkan risiko inflasi pangan menjelang Idul Fitri,” kata dia.
“Dalam analisis historis HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) 2022-2025, cabai rawit konsisten menjadi penyumbang inflasi tertinggi,” imbuhnya.
Sehingga, pihaknya merekomendasikan penguatan ketahanan pasokan melalui perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), operasi pasar untuk menjaga keterjangkauan harga, serta peningkatan kualitas neraca pangan daerah. (yun/dan).
Disunting kembali oleh Anna Tasya Enzelina
Editor : Aditya Novrian