Umat muslim di, Kabupaten Malang menjalani Ramadan dengan berbagai kegiatan ibadah di Masjid Mujahidin dan Panti Asuhan Ar-Rahman. Meski hidup berdampingan dengan warga beragama Kristen Protestan, kehidupan beragama di desa tersebut juga diwarnai sikap saling menghormati antarwarga.
INDAH MEI YUNITA
BANGUNAN besar Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Ringinpitu menyambut siapa saja yang memasuki Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan dari arah timur. Gereja tersebut terletak di perbatasan Desa Karangrejo dan Desa Peniwen.
Selang sekitar 1 kilometer, tepatnya berjarak sekitar 130 meter dari Kantor Desa Peniwen, ada GKJW Jemaat Peniwen yang legendaris. Gereja itu merupakan salah satu gereja tertua di Kabupaten Malang.
Dua gereja itu menjadi simbol besarnya penganut agama Kristen Protestan di Desa Peniwen. Berdasar data Desa Peniwen, sekitar 96,61 persen penduduknya beragama Kristen Protestan.
Dengan jumlah penduduk kurang lebih 3.400 orang, maka 3.285 orang beragama Protestan. Sedangkan lainnya, yakni 87 orang beragama Islam, 26 orang beragama Katolik, dan dua orang beragama lain.
Di antara besarnya populasi pemeluk Kristen, berdiri satu masjid di tengah-tengah desa. Yakni Masjid Mujahidin yang berukuran sekitar 14x18 meter persegi. Masjid yang berada di samping Panti Asuhan Ar-Rahman itu menjadi pusat kegiatan umat muslim di Desa Peniwen.
”Warga Muslim yang ingin tarawih biasanya juga ke sini semua,” ujar Bendahara Panti Asuhan Ar-Rahman Alif Bengkari. Masjid tersebut tentunya dimanfaatkan sebagai satu-satunya sarana ibadah wajib berjamaah bagi masyarakat.
Seperti Senin sore itu, santri di panti asuhan menunaikan salat asar berjamaah di masjid tersebut. Santri yang sudah memasuki akil baligh bergantian menjadi imam salat sekaligus memimpin zikir setelah salat.
Baca Juga: Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang Gencarkan Sosialisasi Pendirian Rumah Ibadah
Sebagian umat muslim di Desa Peniwen merupakan anak-anak panti asuhan. Jumlahnya kurang lebih 31 anak. Mulai dari usia SD hingga mahasiswa. Untuk membimbing anak-anak dalam berpuasa, setiap Ramadan, panti asuhan tersebut mendatangkan santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Firqah, Karangploso sebagai bentuk pengabdian santri.
”Mereka mengajari anak-anak dalam berpuasa, khususnya anak-anak SD yang masih belajar berpuasa,” kata pemuda asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. Supaya anak-anak semangat berpuasa, mereka menjalankan rutinitas Ramadan bersama-sama.
Mulai dari sahur bersama dengan dibangunkan pengurus panti asuhan. Jeda antara sahur dan subuh tidak terlalu lama supaya anak-anak tidak kembali tidur. Setelah sahur, mereka menunaikan salat subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan tadarus. Setiap anak bergiliran melafalkan kitab suci tersebut.
Mereka juga memiliki jadwal piket kebersihan panti asuhan. Menjelang buka puasa, biasanya ada kajian yang dilaksanakan sekitar 20-30 menit sebelum berbuka. Begitu magrib tiba, mereka berbuka bersama.
Keberagaman di desa tersebut berjalan damai. Umat muslim tetap dapat mengumandangkan azan menggunakan pengeras. Sehingga tidak ada halangan menjalankan ibadah di sana.
”Namun, saat tadarus, kami menggunakan speaker dalam. Kami juga khawatir mengganggu warga lain. Apalagi saat setelah subuh,” kata Santri Ponpes Al-Firqah Muhammad Fajri Hasan yang mengabdi di panti asuhan tersebut.
Terkadang, juga ada kegiatan buka bersama (bukber) yang mengundang seluruh warga. Seperti yang dilaksanakan pada 2023 lalu. Saat itu, pihak panti asuhan menyediakan makanan untuk disajikan kepada masyarakat.
Namun, karena jumlah umat Muslim yang minim, mereka biasanya salat Idul Fitri di desa lain. Misalnya di Pondok Entrepreneur Muhammadiyah (PEM) 2 Kromengan. Sebab, hanya ada beberapa anak yang tinggal di panti asuhan. Sedangkan lainnya pulang ke kampung halamannya bagi yang masih memiliki keluarga.
”Saat Idul Fitri, kami yang Nasrani akan membantu jaga di masjid-masjid luar desa. Seperti di masjid Desa Kromengan, Jambuwer, Jatikerto. Kami menyebar ke seluruh Kromengan,” kata Kepala Dusun (Kasun) Ringinpitu Joko Santoso. Begitu pula saat Natal, warga muslim, baik dari dalam desa maupun luar desa membantu berjaga di gereja.
Silaturahmi antar-masyarakat juga tetap dijaga. Salah satunya melalui anjangsana ke rumah tetangga yang sedang merayakan hari rayanya. ”Misalnya saat Idul Fitri, kami anjangsana ke rumah saudara muslim, baik di dalam maupun luar desa. Saat Natal juga begitu, saudara yang muslim anjangsana ke rumah kami,” pungkasnya. (*/adn)
Disunting Kembali: Diva Ayu Herdianasari
Editor : Aditya Novrian